Oleh: Dzikri Ashiddiq
Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, sungguh mulia para Ibu di Ghaza. Merekalah yang melahirkan para generasi-generasi pejuang, pembebas dan penjaga Masjidil Aqsha, ketika bercerita tentang Ibu di Ghaza yang ditanya, Mengapa Ibu tidak pindah saja ke negeri lain yang lebih aman ?
Dan jawabannya, membuat hati ini bergetar dan air matapun akan menetes saat mendengar jawabannya, para Ibu di Ghaza menjawab, Debu di pelataran Masjid Al-Aqsha lebih mahal dari darah dan jiwa saya. Aku di sini justru mewakili kalian semua.
Sebuah jawaban, yang mencerminkan kemuliaan dan menjadi sebuah tanda betapa besarnya rasa cinta pada negerinya yang dilandasi dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Bahwa ia, Palestina, adalah negeri yang diperjuangkan para Syuhada dan setiap hasta tanah Palestina sangat berharga bagi umat Islam.
Itulah mengapa para Ibu di Ghaza, saat melihat anak-anaknya terbaring dalam kondisi penuh luka, maka para Ibu di Ghaza berkata, Al-Aqsha, jika bukan aku yang membebaskannya maka anak-anakku. Jika bukan anak-anakku maka cucu-cucuku. Sungguh mulia para Ibu di Ghaza yang memiliki semangat juang dalam membebaskan Masjidil Aqsha.
Para ibu di Ghaza melambangkan kemuliaan para wanita Muslimah dan dari rahim mulia merekalah lahir para pejuang-pejuang dan para pahlawan hebat yang meruntuhkan kezaliman di muka bumi ini.
Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, teruslah membantu perjuangan saudara-saudara kita di Palestina hingga Palestina Merdeka, dengan terus menyuarakan perjuangan, kebebasan dan kemerdekaan bagi negeri palestina, serta dengan aksi boikot seluruh produk israel dan dengan menggalang donasi bantuan bagi saudara-saudara kita di palestina.
Akhirul kalam, Ya Allah, menangkanlah kaum Mujahidin atas musuh kami musuh agama, dengan Rahmat-Mu, Wahai Yang Maha Pengasih, dan sampaikanlah Sholawat kami kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, Ya Rabb Kami memohon kepada-Mu, kabulkanlah segala permohonan kami kepada-Mu.

