Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah, Indonesia dan Palestina dipersatukan oleh jejak persaudaraan yang terukir sejak masa perjuangan kemerdekaan. Ketika bangsa kita mempertahankan kedaulatan, seorang putra Palestina mengulurkan dukungan lewat pengorbanan yang luar biasa. Ia adalah Muhammad Ali Taher, jurnalis yang mendedikasikan pena dan medianya untuk menyuarakan kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah.
Beliau lahir di Nablus, Palestina pada tahun 1896, Ali merantau ke Mesir pada 1912 dan menekuni dunia jurnalistik. Sejak muda, ia banyak menulis tentang penderitaan rakyat Palestina, penindasan kolonial, dan perjuangan bangsa-bangsa Muslim untuk meraih kemerdekaan. Bagi beliau, jurnalisme adalah amanah untuk membela mereka yang suaranya berusaha dibungkam.
Melalui surat kabar Ashoura, kantor redaksinya di Kairo (Dar Ashoura) berkembang menjadi pusat koordinasi gerakan anti-kolonial. Tempat ini menjadi ruang bertemunya para aktivis dan pejuang kemerdekaan dari berbagai negara. Dari ruang redaksi inilah, Ali memfasilitasi komunikasi para pejuang, menyebarkan narasi perlawanan, dan menggalang dukungan internasional melawan penjajah.
Keterikatan Ali Taher dengan Indonesia tumbuh dari keyakinannya bahwa perjuangan kita adalah bagian dari kebangkitan umat Islam. Tidak hanya membuka ruang diskusi, ia juga menggunakan pengaruhnya untuk melobi pemerintah Mesir agar membantu keberlangsungan studi para mahasiswa Indonesia yang terdampak krisis perang.
Pada tahun 1945, Ali Taher menggerakan Komite Pembela Indonesia untuk mendesak negara-negara Arab memberikan pengakuan kedaulatan bagi Indonesia. Pengaruh medianya menjadi corong diplomasi kita di Timur Tengah. Saat menyaksikan pemutaran film proklamasi di Kairo pada 1947, ia meneteskan air mata haru atas lahirnya bangsa baru yang merdeka.
Puncak pengorbanannya terjadi saat Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Ketika Yogyakarta jatuh dan situasi RI kritis, Ali Taher bertindak cepat, meski saat itu tanah kelahirannya, Palestina, juga sedang bergejolak. Ia membawa M. Zein Hassan ke Bank Arabia, lalu menguras seluruh tabungan pribadinya demi mendanai perjuangan diplomasi Indonesia.
Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia, tegasnya. Luar biasanya, ia menyerahkan seluruh harta tersebut tanpa meminta selembar pun kuitansi atau tanda bukti penerimaan. Keikhlasan tanpa syarat ini menjadi bukti nyata bahwa ikatan ukhuwah islamiyah berdiri di atas ketulusan tauhid. bukan sekadar kalkulasi materi di atas kertas.
Pengorbanan Muhammad Ali Taher memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia dan Palestina dirajut oleh darah, harta, dan keimanan. Dukungan kita untuk Palestina hari ini bukan sekadar simpati kemanusiaan, tetapi bagian dari merawat ikatan persaudaraan dan menunaikan amanah sejarah yang telah diwariskan kepada kita.
Hari ini, saat kita menatap Palestina, kita tidak sedang menatap sebuah tempat yang jauh atau sekadar panggung wacana politik. Kita sedang memandang cermin sejarah, tempat di mana ketulusan pernah dipertaruhkan demi tegaknya kedaulatan bangsa kita. Ya Allah. Lindungilah saudara-saudara kami di tanah Palestina. Jadikanlah setiap kesabaran mereka sebagai perisai, setiap duka mereka sebagai peninggi derajat di sisi-Mu, dan setiap pengorbanan mereka sebagai saksi kebenaran di hadapan-Mu.
Ya Allah ulurkanlah tangan-Mu untuk memulihkan luka-luka mereka, menenangkan hati anak-anak mereka, dan mengembalikan kedamaian yang hakiki di bumi yang Engkau berkahi. Jangan biarkan kami menjadi bagian dari mereka yang lupa atau abai terhadap amanah persaudaraan ini. Tanamkan dalam diri kami keberanian untuk senantiasa berdiri di atas kebenaran, menegakkan keadilan, dan merawat ikatan keimanan ini hingga akhir hayat.

