Lima Muslimah Hebat yang Berperan dalam Menjaga Baitul Maqdis

Lima Muslimah Hebat yang Berperan dalam Menjaga Baitul Maqdis

Oleh: Dzikri Ashiddiq

Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, di masa lalu, para muslimah hebat mengukir sejarah dalam menjaga Baitul Maqdis. Dan saat ini pegang peranmu, wahai para muslimah di era modern. Karena bisa jadi generasi Shalahuddin lahir dari didikanmu.

Diantara para muslimah hebat yang berperan dalam menjaga Baitul Maqdis di masa lalu yang pertama adalah Hannah, Istri Imran yang bernazar untuk memiliki keturunan yang menjaga Baitul Maqdis. Nama lengkapnya adalah Hannah binti Faqudh, istri Imran, adalah perempuan shalihah yang doanya mengguncang langit.

Saat merindukan keturunan, beliau bernazar bahwa anaknya akan didedikasikan untuk menjadi Muharrar, yaitu seorang yang ahli ibadah di Baitul Maqdis. Nazar ini bermuara akhirnya dengan kelahiran Maryam yang menjadi ibu dari Nabi Isa dan membuka jalan bagi peristiwa-peristiwa besar di sana dan kisahnya menjadi simbol bahwa kontribusi perempuan terhadap peradaban bisa dimulai dari niat yang luhur dan mulia dalam visi keluarga.

Muslimah hebat kedua yang berperan dalam menjaga Baitul Maqdis adalah Maryam binti Imran yang menjadi pengasuh Nabi dan pemakmur Al-Aqsha. Satu-satunya wanita yang Allah sebut namanya dalam al-Qur’an, bahkan menjadi nama salah satu surat dalam al-Qur’an yaitu surat Maryam.

Ibunda Maryam adalah hasil dari doa keluarganya, dan juga kisah tentang seorang wanita yang memakmurkan Al-Aqsha saat Bani Israil sedang tidak baik-baik saja dan negeri para Nabi itu dicengkeram oleh Romawi. Di Al-Aqsha, Ibunda Maryam belajar langsung dari Nabi Zakaria, dan mendidik Nabi Isa alaihissalam menjadi salah satu pahlawan terbesar sepanjang sejarah manusia.

Muslimah hebat ketiga yang berperan dalam menjaga Baitul Maqdis adalah Ishmah Ad Din Khaltun. Sebagai istri dari dua tokoh besar yaitu Nuruddin Zanki lalu wafat dan dinikahi oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Ishmah Ad Din Khaltun tidak sekadar menjadi permaisuri, tapi lebih hebat dari itu ia menjadi pilar jihad dan pendidikan.

Ia menginfakkan kekayaan untuk membiayai perjuangan membebaskan Al-Aqsha, mendirikan sekolah, dan memperkuat lembaga sosial di Syam dan Mesir. Sosoknya adalah bukti bahwa kekuasaan di tangan perempuan bisa menjadi sarana untuk menghidupkan peradaban. Abu Syamah Al-Maqdisi mengatakan bahwa Shalahuddin suka menerima ide-ide dari Khatun.

Muslimah hebat yang keempat yang berperan dalam menjaga Baitul Maqdis adalah Turkan Khatun dan Tanshuq Muzafariyah. Pada masa Dinasti Mamalik abad 14 M, Turkan Khatun membangun sekolah-sekolah di Baitul Maqdis sebagai benteng keilmuan umat. Sementara Tanshuq Al-Muzhafariyah menyerahkan rumahnya untuk dijadikan madrasah yatim, yang masih berdiri hingga hari ini.

Di tengah gejolak politik, dua perempuan ini menunjukkan bahwa wakaf bukan sekadar amal, tapi strategi mempertahankan identitas Islam di tanah suci lintas generasi. Di tengah gempuran pasukan salib dan serangan mongol.

Muslimah hebat yang kelima yang berperan dalam menjaga Baitul Maqdis adalah Roxelana (Ratu Utsmaniyah). Dikenal juga sebagai Hurrem Sultan keturunan Ukraina, Roxelana merupakan istri Sultan Sulaiman Al-Qanuni dan ia mendirikan dapur umum Takiya Khasaki Sultan di Yerusalem.

Dapur ini memberi makan fakir miskin secara gratis selama lebih dari 5 abad. Wakafnya bukan hanya cermin kasih sayang, tetapi juga strategi sosial-keagamaan yang menyejahterakan rakyat dan mengakar kuat dalam sejarah Utsmani di Baitul Maqdis.

Sumber : The Incredible Muslim (Menjadi Muslimah Luar biasa dengan Penuh Sadar dan Rasa Bangga)    

     

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: