Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah, menjadi guru tidak cukup hanya modal pintar. Lebih dari itu, seorang pendidik dituntut memiliki sesuatu yang lebih mendasar, seperti : adab, kedekatan dengan murid, dan kemampuan menyentuh jiwa mereka.
Pesan tersebut disampaikan Bana Fatahillah, dalam webinar bertajuk Kriteria Guru Ideal pada Ahad, 4 Oktober 2026. Dalam kajian itu, Bana mengangkat kembali pemikiran Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi tentang pendidikan Islam melalui bukunya Tajribah al-Tarbiyyah al-Islamiiyyah.
Buku yang ditulis sekitar enam dekade lalu tersebut menunjukkan bahwa sejumlah persoalan pendidikan hari ini bukanlah persoalan baru. Salah satunya adalah cara mengukur kelayakan seorang guru. Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi juga memberikan perhatian besar pada relasi antara guru dan murid.
Seorang guru, menurutnya, perlu memposisikan diri sebagai kakak dan teman bagi murid sebelum hadir sebagai guru. Kedekatan ini bukan untuk menghilangkan wibawa, tetapi membuka ruang bagi tumbuhnya kepercayaan dan proses pendidikan yang lebih menjiwai.
Dalam paparannya, Bana Fatahillah menyoroti dua di antara tipe guru yang keliru dalam berinteraksi dengan murid. Pertama, guru yang tidak benar-benar mengenal muridnya, mengetahui nama mereka sebatas dari daftar hadir, nilai, atau tugas. Dan kedua, guru yang menjadikan kelas sebagai tahta dan dirinya sebagai otoritas yang tidak boleh dilampaui.
Intinya, pendidikan, dengan demikian, bukan sekadar profesi, melainkan amanah bagi sebuah peradaban. Guru tidak hanya membentuk murid yang tahu, tetapi membina manusia yang beradab, berkarakter, dan memiliki fondasi akidah yang benar.
