Selamat Muktamar NU ke-35: Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa

Selamat Muktamar NU ke-35: Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa

Oleh: Dr. Rifa Anggyana, S.Pd., S.E., M.M. (Ketua Pembina IRMA Provinsi Jawa Barat)

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, para sahabat, para ulama, serta seluruh umatnya yang istiqamah menapaki jalan kebaikan hingga akhir zaman.

Dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan, kami menyampaikan Selamat dan Sukses atas terselenggaranya Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, yang dilaksanakan pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Muktamar kali ini mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.”

Muktamar Nahdlatul Ulama bukan sekadar agenda organisasi, bukan pula hanya momentum pergantian atau penetapan kepemimpinan. Lebih dari itu, Muktamar merupakan ruang musyawarah para ulama, kiai, pengurus, dan warga Nahdliyyin untuk melakukan muhasabah, memperkuat ukhuwah, serta merumuskan arah perjuangan dan pengabdian NU bagi agama, umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Muktamar sebagai Jalan Musyawarah dan Ukhuwah

Islam menempatkan musyawarah sebagai salah satu prinsip penting dalam kehidupan bersama. Allah SWT menggambarkan orang-orang beriman sebagai mereka yang menyelesaikan urusannya dengan jalan musyawarah sebagaimana termaktub dalam QS. Asy-Syura ayat 38.

Musyawarah mengajarkan bahwa keputusan besar tidak semestinya dilandasi oleh kepentingan pribadi, ego kelompok, ataupun ambisi kekuasaan. Musyawarah harus berangkat dari niat yang ikhlas, pikiran yang jernih, hati yang lapang, serta tujuan untuk memperoleh kemaslahatan yang sebesar-besarnya.

Dalam konteks itulah Muktamar NU memiliki makna yang sangat mendalam. Para alim ulama dan para pemegang amanah berkumpul bukan sekadar untuk berbicara mengenai organisasi, melainkan juga membawa harapan jutaan umat yang menginginkan NU terus menjadi penjaga nilai-nilai keislaman yang moderat, damai, santun, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.

Perbedaan pandangan dalam sebuah Muktamar adalah sesuatu yang wajar. Justru dari perbedaan itulah kedewasaan berorganisasi diuji. Yang terpenting adalah bagaimana setiap perbedaan tetap ditempatkan dalam bingkai ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103 agar umat Islam berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai. Pesan tersebut harus terus menjadi spirit dalam setiap musyawarah dan ikhtiar besar umat Islam.

Muktamar hendaknya menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, bukan mempertentangkan persaudaraan. Berbeda pilihan tidak berarti berbeda tujuan. Sebab tujuan besar yang harus dijaga bersama adalah kemuliaan Islam, kemaslahatan umat, dan keutuhan bangsa Indonesia.

Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah

Tema Muktamar ke-35 NU, “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa,” mengandung pesan yang sangat kuat.

Menjaga marwah berarti menjaga kehormatan, nilai, tradisi, dan jati diri organisasi. Nahdlatul Ulama memiliki sejarah panjang dalam menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah, tradisi pesantren, keilmuan para ulama, serta kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sementara itu, memperkaya khidmah berarti memperluas ruang pengabdian. Tantangan umat hari ini semakin kompleks. Persoalan pendidikan, ekonomi, teknologi, moralitas generasi muda, lingkungan hidup, kemiskinan, ketimpangan sosial, hingga perubahan dunia digital membutuhkan jawaban dan ikhtiar bersama.

Karena itu, khidmah keagamaan tidak boleh berhenti hanya pada ruang-ruang ritual. Khidmah juga harus hadir dalam pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, pembinaan generasi muda, penguatan keluarga, kepedulian sosial, serta pembangunan kehidupan masyarakat yang adil dan bermartabat.

Inilah salah satu kekuatan NU sejak dahulu: mampu menjaga tradisi sekaligus merespons perubahan zaman.

Prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jamaah seperti tawassuth atau sikap moderat, tawazun atau keseimbangan, tasamuh atau toleransi, dan i’tidal atau bersikap adil harus terus menjadi pegangan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan masyarakat.

Kepemimpinan Adalah Amanah dan Khidmah

Salah satu hal penting yang tidak terpisahkan dari Muktamar adalah persoalan kepemimpinan. Dalam Islam, kepemimpinan bukanlah kemuliaan yang harus diperebutkan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Seorang pemimpin bukan hanya dituntut memiliki kemampuan, tetapi juga keikhlasan, integritas, keluasan ilmu, kebijaksanaan, dan kesediaan untuk melayani.

Karena itu, siapa pun yang nantinya menerima amanah melalui proses Muktamar hendaknya mendapatkan dukungan dan doa dari seluruh warga Nahdliyyin. Kepentingan organisasi, umat, dan bangsa harus ditempatkan jauh di atas kepentingan pribadi ataupun golongan.

Kita berharap Muktamar ke-35 NU dapat melahirkan kepemimpinan yang mampu menjadi perekat seluruh elemen Nahdlatul Ulama, menghormati para kiai dan ulama, memperkuat pesantren, membina generasi muda, serta membawa organisasi semakin maslahat bagi masyarakat.

Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang meninggalkan manfaat. Sebab ukuran terbesar dari sebuah jabatan bukanlah seberapa tinggi kedudukannya, tetapi seberapa luas manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

NU, Generasi Muda, dan Masa Depan Bangsa

Sebagai bagian dari pembinaan generasi muda Islam, kami memandang Muktamar NU ke-35 juga memiliki arti penting bagi anak-anak muda Indonesia.

Generasi muda hari ini hidup dalam zaman yang sangat berbeda. Teknologi berkembang dengan cepat, informasi datang tanpa batas, dan berbagai nilai serta budaya dapat masuk melalui satu genggaman tangan. Di tengah perkembangan tersebut, generasi muda membutuhkan benteng akidah, kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, dan kecintaan terhadap bangsa.

Di sinilah peran para ulama, pesantren, masjid, organisasi keagamaan, serta lembaga pembinaan generasi muda menjadi semakin penting.

Anak muda tidak cukup hanya diperintah untuk mencintai agama. Mereka harus dirangkul, dibimbing, diberikan ruang untuk berkarya, serta diperkenalkan kepada Islam melalui keteladanan yang menyejukkan.

Masjid harus menjadi rumah bagi generasi muda. Pesantren harus terus menjadi pusat ilmu dan pembentukan akhlak. Organisasi keislaman harus menjadi ruang tumbuh bagi kader-kader yang memiliki ilmu, iman, kreativitas, kepedulian sosial, serta kecintaan kepada Indonesia.

Kami berharap Muktamar NU ke-35 juga semakin memperkuat perhatian terhadap pembinaan generasi muda. Sebab merekalah yang kelak akan melanjutkan perjuangan para ulama dan para pendiri bangsa.

Generasi muda harus tumbuh menjadi generasi yang kuat akidahnya, luas wawasannya, santun akhlaknya, cakap menghadapi perkembangan teknologi, serta kokoh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Merawat Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin

Nahdlatul Ulama telah memberikan teladan panjang tentang bagaimana agama dan nasionalisme dapat berjalan beriringan.

Mencintai agama tidak membuat kita kehilangan kecintaan kepada bangsa. Sebaliknya, kecintaan kepada tanah air dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan, persaudaraan, dan kemaslahatan bersama.

Islam yang kita perjuangkan adalah Islam yang menghadirkan kedamaian, bukan permusuhan; Islam yang mempersatukan, bukan memecah belah; Islam yang membimbing dengan hikmah, bukan dengan kebencian.

Di tengah dunia yang penuh dengan tantangan, polarisasi, dan perbedaan kepentingan, NU diharapkan terus menjadi salah satu kekuatan moral yang menjaga keseimbangan kehidupan beragama dan berbangsa.

Muktamar ke-35 harus menjadi momentum untuk semakin meneguhkan komitmen tersebut. Muktamar hendaknya menghasilkan gagasan yang mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan akar keilmuan dan tradisi para ulama.

Doa dan Harapan untuk Muktamar NU ke-35

Pada akhirnya, seluruh ikhtiar manusia harus disertai dengan doa dan tawakal kepada Allah SWT.

Semoga seluruh rangkaian Muktamar NU ke-35 diberikan kelancaran, keamanan, ketertiban, dan keberkahan oleh Allah SWT. Semoga para ulama, kiai, muktamirin, panitia, serta seluruh pihak yang terlibat diberikan kesehatan, kekuatan, kejernihan hati, dan kebijaksanaan dalam menjalankan amanah.

Semoga setiap keputusan yang dihasilkan benar-benar menjadi keputusan terbaik bagi Nahdlatul Ulama, umat Islam, dan bangsa Indonesia.

Kita berharap Muktamar ini semakin memperkokoh persatuan warga Nahdliyyin, memperkuat hubungan antargenerasi, memperluas khidmah kepada masyarakat, serta meneguhkan NU sebagai kekuatan keumatan dan kebangsaan yang terus memberikan maslahat bagi Indonesia.

Mari menjadikan Muktamar NU ke-35 bukan sekadar perhelatan lima tahunan, tetapi momentum untuk memperbarui niat pengabdian.

Dari pesantren, masjid, majelis ilmu, lembaga pendidikan, hingga ruang-ruang kehidupan masyarakat, semangat khidmah harus terus menyala.

Selamat dan sukses Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing setiap langkah para ulama dan seluruh warga Nahdliyyin dalam menjaga agama, merawat persaudaraan, memperkokoh persatuan bangsa, serta menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Menjaga marwah, memperkaya khidmah, memperkuat ukhuwah, dan menebarkan maslahat untuk umat dan bangsa.

Wallahu al-muwaffiq ila aqwamith thariq.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: