Wujud Cinta yang Sesungguhnya Kepada Allah Swt

Wujud Cinta yang Sesungguhnya Kepada Allah Swt

Oleh: Dzikri Ashiddiq

Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Syekh Ibnu Athaillah, beliau menjelaskan bentuk cinta kepada Allah, menurutnya cinta kepada Allah yang kerap diucapkan banyak orang bisa saja merupakan cinta palsu, tetapi bisa juga cinta sejati

Cinta kepada Allah memang mudah diucapkan, tetapi pembuktiannya ini yang membutuhkan kesungguhan, Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini menyatakan ciri cinta sejati dan cinta palsu : Pecinta itu bukanlah orang yang mengharapkan imbalan dari kekasihnya atau mengejar sebuah tujuan dari sang kekasih, pecinta itu orang yang berbuat sesuatu untukmu, pecinta itu bukan orang yang diberikan sesuatu olehmu

Menjelaskan hikmah ini, Syekh Syarqawi, beliau menjelaskan bahwa orang yang mengaku cinta kepada Allah takkan mengharapkan apapun atas amal ibadahnya, orang yang cinta sesungguhnya kepada Allah hanya mengharap ridha-Nya sebagai keterangan Syekh Syarqawi berikut ini : Pecinta sejati (itu bukanlah orang yang mengharapkan imbalan dari kekasihnya) atas perbuatan yang dia lakukan dimana ia tidak bermaksud surga atau selamat dari neraka dengan amal salehnya atau mengejar sebuah tujuan duniawi atau ukhrawi dari sang kekasih

Pecinta sejati itu orang yang berbuat yakni mempersembahkan sesuatu untukmu, pecinta sejati itu bukan orang yang diberikan sesuatu olehmu karena cinta sejati meraih seluruh (ridha) kekasih untuk pecintanya bagi pecinta sejati, hatinya tidak akan berpaling pada selain kekasihnya oleh karena itu, siapa saja yang menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena surga-Nya, maka ia bukan orang yang sesungguhnya cinta kepada Allah tetapi cinta kepada surga (Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Juz II, halaman 62-63)

Jelasnya cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan pengorbanan secara total tanpa mengharapkan imbalan apapun baik yang bersifat materi maupun non materi dan niat ini yang membedakan penghambaan orang yang cinta sejati kepada Allah dan penghambaan orang yang memiliki pamrih

Keterangan di atas tidak dimaksudkan untuk menilai kadar cinta orang per orang kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala pasalnya, cinta adalah masalah ghaib yang tersimpan di batin masing-masing orang semua ini dimaksudkan untuk mengevaluasi diri kita seperti apa penghambaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala           

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: