Di Tepi Senja

Di Tepi Senja

Oleh: Intan Safitri – SMK Negeri 5 Kota Bekasi

 

Seperti senja, senyummu sangat indah. Dinikmati, bukan dimiliki.

“Andini … kamu tahu Gilang, kan?”

Aku mengangguk. “Aku tahu. Dia kemarin bantu aku pas ban aku bocor, keadaan jalan arah kuliah, untungnya ada dia. Aku juga belum berterima kasih, belum sempat bertemu lagi.”

Kejadian yang benar-benar membuatku tersenyum. Seperti berlabuh sesaat, menikmati senyum di wajah indahnya, dia benar-benar sempurna.

“Dia didekati banyak perempuan tetapi selalu menolak. Bahkan banyak yang kasih dia makanan, baju, ataupun barang-barang keperluan kuliah enggak dia terima. Selama di kuliah juga dia dikabarkan enggak dekat dengan perempuan, hebat, ya! Jarang lelaki yang seperti itu.”

Aku menggeleng dan tersenyum mendengar penuturan Fina. “Lelaki seperti dia banyak, Fin, hanya kamu yang enggak pernah lihat, akhirnya jadi kagum. Awas nanti kamu suka,” guyonku.

Fina tertawa sembari memukul pundakku, lalu berkata, “Aku kalau suka sama dia mau banget, tetapi kayaknya dia enggak akan suka sama aku, mustahil banget.”

“Dapatkan dia lewat jalur langit, Fin. In syaa Allah, akan ada jalannya.”

Setelah perbincangan singkat bersama Fina, aku kembali membaca novel yang baru saja kubeli kemarin. Hobiku memang membaca, sembari menunggu dosen datang juga aku habiskan untuk menulis satu halaman tentang kejadian hari ini, bercerita lebih tepatnya.

Selama aku menjalani kuliah mengambil kelas karyawan, pagi hingga sore aku habiskan untuk bekerja, malam untuk kuliah, dan tengah malam waktunya mengerjakan tugas. Lelah, tetapi tidak apa-apa, untuk masa depanku.

Cerita yang kuukir sendiri tanpa adanya kekasih, berjanji kepada diri sendiri untuk menghindari berpacaran sebelum waktunya. Aku hanya ingin memiliki pasangan untuk menikah, bukan untuk menjalani hal yang tidak seharusnya dilakukan.

Harapan yang benar-benar harus terwujud adalah memiliki suami seperti Gilang, meskipun mustahil.

***

Hari Minggu.

Kerjaan libur, kuliah juga libur. Aku memilih untuk singgah ke Masjid Istiqlal di Jakarta. Ini salah satu caraku menghilangkan penat setelah menjalani hari-hari yang melelahkan. Mengikuti pengajian, dan mendengarkan ceramah adalah obat terbaikku.

Selesai acara pengajian, aku memilih duduk di bawah pohon untuk meluangkan waktu membaca novel yang kubawa. Sesekali menyedot minuman yang baru saja kubeli. Hatiku rasanya tenang. Aku siap untuk kembali menjalani hari yang rasanya sangat melelahkan.

“Andini …?” panggil seseorang.

Aku melihat ke sumber suara tersebut. Ternyata itu Gilang.

“Gilang?” Lelaki itu mengangguk.

“Suka datang ke masjid setiap hari Minggu atau hanya kebetulan?” Gilang bertanya.

“Setiap hari Minggu,” jawabku.

Setelah kujawab tidak ada kata yang keluar dari mulut Gilang. Dia terus melihat pakaianku. Kebetulan hari ini aku memakai gamis panjang dan besar berwarna hitam hingga tidak terlihat bentuk tubuhku, dan kerudung panjang dengan warna senada dengan gamis yang kupakai. Tatapannya seperti kagum, tetapi aku tidak mau salah sangka dulu.

“Gilang …, untuk hari Rabu terima kasih, ya, sudah membantuku.” Akhirnya aku yang memulai kembali percakapan.

“Lo sempurna, Dini,” celetuk Gilang yang sangat terdengar jelas di telingaku.

“Tunggu gue beberapa bulan lagi, ya! Gue akan yakinkan dulu.” Ucapan Gilang membuatku semakin bingung.

“Maksudnya bagaimana, Lang?” tanyaku.

“Nanti lo juga akan tahu.”

Setelah mengatakan itu Gilang pergi begitu saja. Hari ini dia terlihat sangat luar biasa, peci yang melekat di kepalanya, baju koko dan sarung dengan warna senada, menambah kesan lelaki yang sempurna.

Astaghfirullah. Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini, batinku menyadarkan pikiran burukku.

“Sisakan satu seperti Gilang untukku, Ya Rabb.”

Tuturku di saat senja sudah mulai muncul. Warnanya sangat indah, terlihat jelas di depanku. Tidak lain, aku menyukai senja, warnanya, dan janjinya tepat untuk kembali. Aku kembali melangkahkan kaki ke dalam masjid, azan akan segera berkumandang.

Setelah salat, aku memilih menengadah, berdoa, memanjatkan segala harap.

Ya Allah, berikanlah hamba jalan terbaik.

            Ya Allah, berikanlah hamba pelengkap hidup yang terbaik untuk melengkapi hidupku, ibadahku, dan agamaku.

            Ya Allah, kabulkanlah, aamiin.

***

Satu bulan setelah pertemuan dengan Gilang aku sudah tidak lagi melihatnya. Kata-kata yang dia ucapkan masih saja terngiang jelas di telingaku. Menjadi tanda tanya yang sampai sekarang tidak ada jawabannya. Aku seperti berharap, tetapi aku juga tidak mau sakit.

“Din ….” Fina tergesa-gesa hingga terjatuh, lalu bangun lagi.

“Untungnya aku enggak jadi suka sama Gilang, ternyata udah lama dia enggak terlihat di kampus, hari ini dia dikabarkan tunangan dan hari Minggu akan melaksanakan nikah. Untung aja aku enggak jadi suka, jadi enggak sakit hati deh.”

Aku tersenyum kecut, merasa bahagia karena Gilang sudah menemukan seseorang yang pantas untuk melengkapi agamanya. Di sisi lain aku juga masih berharap bahwa ini semua hanya mimpi. Aku yang seperti diberi janji oleh Gilang, ternyata itu semua hanya khayalanku yang tidak akan menjadi nyata.

Tidak apa-apa, sebelum jauh harapan untuk dia bersamaku, lebih baik seperti ini. Sudah mengetahui jawabannya, dan berkata berarti dia bukan jodohku. Ya Allah, aku yakin, Engkau telah menyiapkan jodoh terbaik untukku, untuk melengkapi semua tentangku. Berilah kebahagiaan dan kelengkapan untuk Gilang, dan untukku nanti ketika bersama jodohku.

Terima kasih telah menunjukkan kekuasaanmu, Ya Rabb.

 

 

 

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: