Oleh: Intan Safitri – SMK Negeri 5 Kota Bekasi
Kalau tubuhmu healing, tapi isi kepalamu berisik, bukan ketenangan yang kamu dapat.
Libur akhir semester telah tiba. Waktunya untuk berhenti sejenak dari kegiatan penatnya sekolah. Beristirahat untuk tubuh yang dipukul realita. Pulang untuk isi kepala yang berisik tidak pernah henti. Terbayang jelas, bagaimana untuk hidup berikutnya. Lelah.
“Libur semester kali ini, kamu ingin ke mana? Rencana liburanku sudah banyak.”
Aku tersenyum. “Di rumah saja. Biaya buat jalan-jalan enggak ada. Persiapan untuk kelulusan mungkin lebih baik menurutku.”
Kakiku melangkah ke arah senja. Saat ini sedang ada di rooftop sekolah seperti biasa sebelum pulang. Ketenangan yang kucari tidak pernah kutemui seumur hidup selain warna senja yang menenangkan. Kalau boleh ikut, aku ingin pulang bersama senja, menemui Allah.
“Aku lihat pembagian nilai kemarin bukan orang tuamu yang mengambil.”
Aku menatap Gisela sembari tersenyum kecut. Mendengar kata orang tua seperti tersambar petir yang menyayat hati. Luka dan lara semuanya menjadi satu.
“Iya, bukan orang tuaku. Mereka sibuk, jadinya digantikan oleh temanku.”
“Kamu hebat, ya. Pintar, cantik, banyak teman, beruntung banget jadi kamu,” ucap Gisela.
“Pintar, cantik, banyak teman itu bonus kehidupan. Untuk bonus lainnya seperti merasa disayangi oleh orang-orang yang aku sayangi itu mustahil, kedua orang tuaku contohnya,” jawabku seadanya.
“Apakah kamu baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja atau tidak, aku harus tetap biasa saja di hadapan banyak orang, Sel.”
Gisela seperti mengerti mengusap bahuku dari samping. Aku yang merasa dimengerti rasanya inginn menangis, tapi lebih baik jangan. Tidak mau terlihat lemah adalah slogan utamaku.
“Apa pun yang terjadi, tetap semangat, ya, Laras.”
“Pastinya, dan kamu juga, ya!”
Langit sudah semakin gelap, warna cantik yang dimiliki senja sudah memudar. Awan sudah berwarna abu-abu, menandakan malam akan segera tiba lebih cepat dari biasanya. Aku dan Gisela akhirnya memutuskan untuk pulang.
***
Sudah hampir dekat rumah, aku mendengar suara keributan yang selalu aku dengar setiap harinya. Seperti sudah biasa, rasanya sudah tidak asing lagi.
“Aku pulang.”
“Sekolah sampai sore apa yang kamu dapat? Uang? Atau makanan?”
Pertanyaan ayah yang membuatku tersentak kaget. Bibir yang mengazaniku ketika lahir mampu mengucapkan kata yang mengguncangkan hati. Ini benar-benar membuatku heran sekaligus ingin menangis.
“Mendapatkan ilmu untuk masa depan.”
“Memangnya kamu akan sukses?”
“Sesuai dengan janjiku kepada Ayah dan Ibu, aku akan sukses dengan caraku sendiri. Kalau kalian tidak ingin memberiku semangat, tidak apa-apa, setidaknya hargai setiap prosesku, aku butuh itu.”
“Proses apa yang harus Ibu apresiasi? Kamu aja enggak ada bukti kalau kamu pintar.”
Aku menghela napasku perlahan. Tidak ingin durhaka kepada kedua orang tuaku akhirnya memilih untuk masuk ke kamar. Membuka lembaran nilai dengan hasil yang menurutku cukup baik, kalau juga aku tunjukkan, ayah dan ibu tidak akan percaya.
“Ya Allah, setidaknya jika Engkau tidak memberi orang tuaku kesadaran, berilah aku kesabaran yang lebih untuk menghadapi semuanya.”
“Ya Allah, Laras tahu Engkau sedang memberiku kejutan yang luar biasa untukku. Maka dari itu sehatkanlah kedua orang tuaku.”
Tidak ada hentinya selalu mendoakan yang terbaik untuk ayah dan ibu. Meskipun mereka adalah sang pelipur lara, mereka juga adalah semestaku, duniaku, kehidupanku yang menjadi alasan untuk bertahan setiap harinya.
***
Aku melangkahkan kaki ke masjid yang setiap hari Minggu aku kunjungi untuk mengikuti kajian keagamaan rutin yang dipimpin oleh seorang ustaz. Banyak ilmu keagamaan yang membuat hidupku lebih terarah.
Telinga dan mataku terus memerhatikan bait demi bait penjelasan tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua. Ada ayat yang menyentuh, yaitu, ‘Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu Bapakmu dengan sebaik-baiknya’ (QS. Al-Isra ayat 23).
“Teman-teman yang dirahmati Allah, sebaik-baiknya kita adalah menjadi lebih baik untuk bisa berbakti kepada kedua orang tua, apa pun keadaannya. Turunkan suaramu saat berbicara di hadapan mereka, buatlah mereka tersenyum, jangan biarkan mereka tersakiti.”
Aku hanya bisa tersenyum. Kembali menyalahkan diriku kalau ayah dan ibu masih kurang baik berarti aku yang masih kurang untuk berbakti.
“Kalau merasa kalian selalu disalahkan, jauh dari orang tua, selalu dikasari, doakan mereka agar pintu hatinya dibuka. Kalian harus yakin kalau orang tua kalian sangat sayang, mungkin berbeda caranya. Sebagai anak yang baik, kerjakan sesuatu hal yang memang membuat mereka bangga. Gampang, sukses kunci utamanya.”
“Jangan hanya karna sepatah dua kata yang membuat kalian terjatuh sebab kritikan orang tua kalian menjadi ajang menyerah untuk keadaan tersebut, perjalanan masih panjang, pembuktian masih harus dikejar, cukup jadikan motivasi.”
“Sakit hati? Sudah pasti. Tapi harus kalian ingat, tanpa mereka tidak akan hidup dan menjadi sekuat ini. Jadilah manusia yang bijak, jadilah insan yang hebat, jadilah generasi muda yang taat, jadilah jiwa yang kuat, dan jadilah hati yang lembut.”
“Nikmati prosesnya, jalani takdirnya, In syaa Allah, Allah akan memberikan sesuatu yang luar biasa.”
“Allah tidak akan memberi ujian umatnya di batas kemampuan. Percayalah takdir Allah sangat baik, pasti hidupmu akan berjalan baik juga.”
Bibirku terangkat sempurna. Semua kata-kata yang diucapkan sangat menyayat hati sehingga menamparku hingga sadar. Ini hanya persoalan waktu. Setiap tetes air mata yang jatuh, pasti akan ada obat terbaik suatu saat nanti.
Aku harus menjadi seseorang yang luar biasa, pasti suatu saat nanti ayah dan ibu akan sadar dengan sendirinya jika sudah waktunya. Ini hanya persoalan waktu. Di bawah atau di atas, tidak perlu disesali dan kembali dikritik. Cukup jadikan pembelajaran.
Ayah, ibu … aku anak yang kuat, akan aku jadikan motivasi setiap kalimat terbaik yang kalian ucapkan.
Ayah, ibu … terima kasih, dan sehat selalu. Tunggu aku sukses.
-TAMAT-
