Oleh: Dzikri Ashiddiq
Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seorang ulama besar dari Pekalongan beliau bernama Al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dalam sebuah acara pengajian memberikan tausiyah tentang sebutir nasi
Beliau memberikan teladan bagaimana beliau mendidik keluarganya, beliau mengatakan bahwa sebelum makan dibiasakan untuk membaca doa, Allahumma bariklana fimaa razaqtanaa waqina adzaban-naar
Pada suatu hari, ketika sedang makan bersama, Al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya melihat ada sebutir nasi jatuh dari piringnya, beliau pun mengambil nasi itu kemudian anaknya yang melihat kejadian itu bertanya, Ayah, kenapa Ayah mengambil nasi itu, padahal kita masih punya banyak ? kemudian Habib Luthfi menjawab, Anakku, kalau sekadar nasi, ibumu masih bisa menanak lagi, dan ayahmu insya Allah bisa membelinya
Tapi sadarkah kamu bahwa proses penciptaan nasi ini hingga sampai ke mulut kita begitu panjang, dan kita tidak bisa menciptakan nasi ini Allah lah yang menciptakan nasi ini, sehingga kita harus menghargai siapa yang telah menciptakan nasi ini dan tidak tahukah kamu, bahwa butuh waktu berbulan-bulan untuk mengolah nasi sebelum akhirnya ia masuk ke mulut kita mulai dari mencari bibit, menyemaikan, menanam, memupuk, menjaga kalau ada hama yang dapat merusak tanaman padi, memanen, mengolah hingga lepas dari kulitnya, hingga siap untuk disajikan di hadapan kita
Berapa banyak keringat yang sudah dikeluarkan oleh petani, berapa banyak waktu yang telah disediakan oleh petani ? dan kita berdoa agar semua yang dilalui oleh nasi ini bisa mendapatkan berkah dan dijauhkan dari api neraka mulai dari petani yang sudah menanam dan menjaganya, kerbau yang sudah membajak sawah, pegawai yang bertugas memisahkan padi dengan kulitnya, pedagang beras yang telah membeli lalu menjualnya, orang yang menanak beras, dan bahkan kita sendiri semoga diberi keberkahan dan dijauhkan dari api neraka
Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dari penuturan Al-Habib Luthfi, kita bisa bercermin, berapa banyak di antara kita yang sudah mensyukuri nikmat nasi yang sudah disediakan Allah di hadapan kita ? sudah terbiasa berdoakah kita untuk nasi yang akan kita makan ?
Sudahkah kita mensyukuri itu semua ? semoga Allah tetap memberikan kita tetapnya iman dan Islam, dan semoga diberi kelapangan hati agar mudah meenerima petunjuk, diberi kesehatan, dan diberi rezeki yang cukup dan barokah. Aamiin

