Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, Di satu malam yang sunyi, Allah memperjalankan Rasul-Nya dalam sebuah perjalanan suci. Perjalanan itu dimulai dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha.
Dalam satu malam, Allah memperjalankan hamba-Nya melampaui batas jarak dan logika. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman : Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (QS. Al-Isra ayat : 1). Karena saat Allah berkehendak, tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
Dari Masjidil Aqsha, Rasulullah dinaikan ke langit, untuk bertemu dengan para Nabi, hingga sampai di Sidratul Muntaha. Sebuah perjalanan yang tidak semua manusia bisa pahami, namun wajib kita imani. karena keimanan tidak selalu menuntut penjelasan, tetapi ketundukan.
Di tempat paling tinggi itulah, umat ini menerima sebuah hadiah agung yaitu ibadah Shalat. Bukan diturunkan lewat bumi, tetapi disampaikan langsung di langit. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : Shalat adalah tiang agama. (HR. Tirmidzi).
Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, Peristiwa Isra Mi’raj terjadi setelah masa paling berat dalam hidup Rasulullah. Beliau mengajarkan kita bahwa ujian bukan tanda ditinggalkan, tapi seringkali tanda Allah sedang menyiapkan penguatan bagi iman dan hati kita. Jika hari ini hatimu lelah, bisa jadi pertolongan sedang Allah siapkan.
Peristiwa Isra’Mi’raj mengajarkan kita bahwa iman bukan selalu tentang memahami, tetapi tentang mempercayai. Bahwa setelah kesempitan, Allah selalu punya cara untuk menguatkan, bahwa ketika dunia terasa berat, langit selalu terbuka bagi hamba yang berserah.
Mari jadikan peringatan Isra Mi’raj sebagai momentum untuk menata kembali hati, memperbaiki niat, dan lebih mendekat kepada Allah dan Rasulullah dalam setiap langkah kehidupan dan semoga Allah menguatkan iman dan hati kita semua. Aamiin.
