Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah. Jauh sebelum Islam datang masyarakat Arab sudah mengenal bulan ini dan memuliakannya. Dan setelah Islam datang kemuliaan bulan Muharram tetap diakui dan bahkan ditegaskan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, sebagai salah satu dari empat bulan haram (bulan yang dimuliakan).
Allah Subhanahu Wata’ala, berfirman : Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ada dua belas bulan di antaranya ada empat bulan haram (QS. At-Taubah ayat : 36). Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Kata Muharram berasal dari kata haram yang berarti sesuatu yang dihormati, dimuliakan, atau dilarang. Bulan ini dinamakan Muharram karena pada masa Arab dahulu peperangan dan berbagai bentuk permusuhan diharamkan atau dilarang dilakukan pada bulan ini. Oleh sebab itu, Muharram menjadi bulan yang sangat dihormati.
Dalam Islam, kemuliaan Muharram bukan hanya karena larangan berperang, tetapi juga karena ia termasuk bulan yang Allah muliakan. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal shaleh dan menjauhi perbuatan maksiat pada bulan ini.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menyebut Muharram sebagai Syahrullah (Bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan keistimewaan bulan ini. Beliau bersabda : Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. (HR. Muslim). Di bulan ini juga terdapat hari Asyuro (10 Muharram), hari yang memiliki banyak peristiwa bersejarah, di antaranya :
Nabi Musa AS diselamatkan dari Fir’aun. Peristiwa ini adalah yang paling kuat dan shahih riwayatnya. Pada tanggal 10 Muharram (Hari Asyura), Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dengan membelah laut, sementara Fir’aun dan pasukannya ditenggelamkan. Karena itu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menganjurkan umat Islam berpuasa pada hari Asyura.
Peristiwa bersejarah kedua di bulan Muharram, Nabi Nuh AS dan kapal yang berlabuh. Disebutkan bahwa kapal Nabi Nuh AS berlabuh dengan selamat di Bukit Judi setelah banjir besar. Sebagai bentuk syukur, beliau berpuasa. Riwayat ini terkenal di kalangan ulama, meskipun tingkat kesahihannya diperselisihkan.
Peristiwa bersejarah ketiga di bulan Muharram, Nabi Adam AS diterima taubatnya. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa pada hari Asyura Allah menerima taubat Nabi Adam AS setelah beliau dan Hawa diturunkan ke bumi.
Peristiwa bersejarah keempat di bulan Muharram, Nabi Ibrahim AS diselamatkan dari api. Dikisahkan Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim AS dari kobaran api yang dinyalakan oleh Raja Namrud. Api yang semula sangat panas menjadi dingin dan tidak membahayakan beliau.
Peristiwa bersejarah kelima di bulan Muharram, Nabi Yunus AS keluar dari perut ikan. Setelah berdoa dengan penuh penyesalan dan harapan kepada Allah, Nabi Yunus AS diselamatkan dan dikeluarkan dari perut ikan.
Peristiwa bersejarah keenam di bulan Muharram, Nabi Yusuf AS dibebaskan dari kesulitan. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara dan memperoleh kemuliaan setelah melewati berbagai ujian hidup.
Peristiwa bersejarah ketujuh di bulan Muharram, Nabi Ayyub AS disembuhkan dari penyakitnya. Setelah bertahun-tahun bersabar menghadapi penyakit dan ujian, Allah mengembalikan kesehatan serta berbagai nikmat kepada Nabi Ayyub AS.
Bulan Muharram bukan sekadar awal tahun Hijriyah, tetapi pengingat bahwa pertolongan Allah selalu datang pada waktu yang paling tepat. Maka jadikan bulan Muharram sebagai awal perubahan baik yang kita isi dengan membaca doa akhir dan awal tahun, memperbanyak puasa sunnah, yang paling dianjurkan pada hari tasua dan asyuro ( 9 dan 10) Muharram, memperbanyak istighfar dan taubat, memperbanyak sedekah, dan memperbanyak dzikir dan ibadah sunnah.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H. Semoga tahun ini menjadi awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik dan lebih dicintai Allah. Aamiin.

