Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah, pendidikan bukan hanya tentang banyaknya ilmu. Di tengah banyaknya pilihan sekolah, kelas, dan buku, kita tentu ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak. Kita ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berilmu, berakhlak, dan bermanfaat.
Namun, kisah Imam Malik mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang : Seberapa banyak yang anak ketahui ? Tetapi juga : Menjadi pribadi seperti apa ia setelah memperoleh ilmu ? Karena ilmu membutuhkan adab agar dapat digunakan dengan benar dan membawa kebaikan.
Ketika Imam Malik hendak belajar kepada Rabi’ah Ar-Ra’yi, ibunya tidak hanya berpesan agar beliau mengejar sebanyak mungkin ilmu. Beliau justru berkata, Pergilah menghadap Rabi’ah dan pelajarilah adabnya sebelum engkau mempelajari ilmunya. Seakan beliau ingin menanamkan bahwa cara seseorang belajar sama pentingnya dengan apa yang dipelajarinya.
Jauh sebelum anak duduk di ruang kelas, ia telah belajar dari kehidupan di rumah. Anak belajar : Mendengarkan, ketika orang lain berbicara, mengucapkan terima kasih dan meminta maaf, menghormati perbedaan, dan memperlakukan orang lain dengan baik. Sebuah studi longitudinal terbaru mengikuti 3.200 ibu dan anak sejak masa kehamilan hingga anak berusia 4.5 tahun. Dimana kehangatan hubungan keluarga serta kebiasaan seperti bermain, membaca, bercerita, dan memberikan apresiasi berkaitan dengan perkembangan kompetensi sosial-emosional anak.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya perilaku tersebut dilakukan secara konsisten, bukan sesekali. Kapan terakhir kali kita mengapresiasi kejujuran dan kebaikan anak, bukan hanya pencapaiannya ?
Lalu anak itu bertemu guru-gurunya. Di sana, adab tidak hanya diajarkan melalui nasihat, tetapi juga melalui keteladanan . Anak-anak memperhatikan lebih banyak dari pada yang kita kira. Mereka melihat bagaimana guru : Menyapa dan mendengarkan, menanggapi kesalahan, mengendalikan emosi, berlaku adil, dan membimbing tanpa merendahkan.
Hal ini sejalan dengan penelitian tahun 2024 di China yang diambil data dari 694 murid sekolah dasar selama empat kali pengukuran dalam dua tahun ajaran. Penelitian tersebut menemukan bahwa dukungan emosional dan bantuan belajar dari guru berkaitan dengan capaian matematika murid sepanjang waktu. Namun, arah hubungannya bersifat dinamis : prestasi murid juga dapat memengaruhi banyaknya dukungan yang diberikan guru.
Artinya, riset ini tidak menyatakan bahwa keramahan guru otomatis menaikan nilai. Namun, dukungan guru dan perkembangan akademik anak tidak berdiri sendiri. Apakah murid yang kesulitan justru menerima lebih sedikit perhatian dari kita ?
Membangun adab adalah kerja bersama orang tua menanamkan adab di rumah, guru menumbuhkannya melalui keteladan dan interaksi di sekolah. Keduanya perlu berjalan dalam arah yang sama. Penelitian di Australia yang melibatkan 8.152 anak sekolah dasar menunjukkan bahwa keyakinan orang tua terhadap kemampuannya mendampingi pendidikan anak berkaitan dengan kualitas hubungan guru-murid dan komunikasi orang tua-guru dua tahun kemudian. Hal ini mengingatkan kita bahwa pendidikan anak bukan kompetisi antara rumah dan sekolah. Pendidikan yang kuat tumbuh melalui kemitraan. Apakah selama ini komunikasi orang tua dan guru hanya terjadi ketika anak bermasalah ?
Ilmu dan adab harus bertumbuh bersama. Ketika anak pulang ke rumah, mana yang lebih dulu orang tua tanyakan ? Nilainya bagaimana nak ? atau hari ini kamu sudah berbuat baik kepada siapa ? Prestasi tetap penting. Namun, anak juga perlu diapresiasi ketika ia jujur, sabar, bertanggung jawab, menghormati orang lain, berani meminta maaf, dan mau memperbaiki kesalahannya.
Ketika orang tua dan guru keduanya saling menguatkan, pendidikan tidak hanya membuat anak banyak tahu, tetapi membantunya menjadi manusia yang : Berilmu, beradab, dan membawa manfaat.

