Oleh: Dzikri Ashiddiq
Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, ada sebuah nasihat yang sangat dalam yang disampaikan oleh Abu Darda dalam Hilyah, Belajarlah sebelum ilmu diangkat. Sungguh diangkatnya ilmu adalah dengan wafatnya para ulama. Ia seperti oase di tengah keringnya keadaan, saat kita tidak benar-benar belajar dari ahli ilmu.
Death of expertise, adalah salah satu musibah paling mengerikan di era kita. Media sosial menjadi panggung siapa saja, dan ironisnya yang tidak berilmu lantang bersuara. Umat dilanda berisik dan kebingungan, yang berilmu, ditutup oleh mereka yang bergimik. Berantakanlah kita.
Di antara kebingungan ini, mari kita benar-benar melihat dari siapa kita mengambil ilmu agama ini. Siapa guru-gurunya, apa kitab yang beliau baca dan kaji, bagaimana adabnya pada ilmu dan ulama, dengannya kita bisa menemukan kemurnian di tengah kebisingan.
Setelah terbiasa kita dalam kajian-kajian bertema, mari mencoba ikut kelas kajian kitab, yang sederhana saja, sambil juga memulai belajar bahasa Arab. Dan engkau akan merasakan sebuah sense of moving forward, rasa bergerak maju dan takjub karena sedalam itu ilmu ulama kita.
Jika engkau selesai membaca sebuah buku, maka engkau akan melihat dunia dengan sudut pandang yang baru. Apalagi jika belajar Islam dengan jalan yang dilalui oleh para ulama, sungguh kita akan melihat dunia dengan sudut pandang yang setiap detailnya menjadi istimewa.
Ah, aku lelah belajar, waktuku habis dalam bekerja dan mencari nafkah. Sejatinya itu penyataan wajar, tapi hendaknya kita tahu bahwa seseorang akan Allah mudahkan meluangkan waktu jika memang telah tulus niatnya. Dan mari kurangi scrolling media sosial secara berlebih itu, dan kita akan sadari. Bahwa masih banyak ilmu di luar sana.
Bertebaran bagai bintang, terhampar di banyak kajian dan majelis-majelis, yang bukan sebatas demi agar engkau dan aku bisa temukan ketenangan. Ia lebih dari ketenangan, ia adalah kemapanan berpikir, ketajaman, kesimpulan dan detailnya tadabbur.

