BULAN SYA’BAN BULAN PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

BULAN SYA’BAN BULAN PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Lataiful Ma’arif memberikan analogi cerdas : Bulan Sya’ban ibarat mukadimah untuk bulan Ramadhan, maka di dalamnya juga dianjurkan apa yang disyariatkan pada bulan Ramadhan berupa memperbanyak puasa dan membaca Al-Qur’an. Supaya tercapai kesiapan dalam menyambut Ramadhan, sehingga jiwa akan terlatih untuk mentaati Ar-Rahman, Allah Subhanahu Wata’ala.

Posisi Sya’ban bagi Ramadhan itu seperti salat rawatib qabliyyah bagi salat wajib. Ia adalah penyempurna, sekaligus sebagai persiapan agar jiwa tidak kaget. Ibarat seorang atlet maraton, mungkinkah dia langsung lari jarak jauh tanpa persiapan dan pemanasan terlebih dahulu ? pasti tidak akan siap, pasti akan mengalami kram, atau cedera di tengah perlombaan. Begitu juga dengan ibadah kita, seringkali kita pasang target setinggi langit buat Ramadhan : pokoknya tahun ini harus khatam 3 kali, tarawih tidak boleh bolong.

Tapi realitanya ? di Sya’ban ini, mushaf masih jarang dibuka, lisan masih kaku dan berat melafalkan ayat al-Qur’an, serta fisik belum terbiasa menahan lapar. Kalau pemanasan-nya saja dilewatkan, jangan heran kalau nanti hari-hari awal Ramadhan isinya Cuma lemas dan tidur karena tubuh kaget maka fungsikan Sya’ban untuk melenturkan lisan (perbanyak membaca al-Qur’an) dan melatih perut (dengan puasa sunnah) agar pas peluit Ramadhan ditiup, kita sudah siap dalam memasuki bulan Ramadhan.

Jangan lalaikan bulan Sya’ban ini karena bulan ini memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana Al-Imam al-Khatib asy-Syirbini (w.977 H) dalam kitab al-Iqna menyusun urutan bulan paling mulia diantaranya : bulan Ramadhan (paling mulia), Muharram (paling mulia di antara bulan haram), Rajab, Zulhijah, Zulqa’dah, lalu Sya’ban. Bulan Sya’ban adalah bulan paling mulia tepat setelah deretan bulan-bulan haram.

Dan Bulan Sya’ban disebut juga sebagai Syahrul Qurra yaitu bulan para pembaca al-Qur’an, Dalam kitab Madza fi Sya’ban, Asy-Syaikh as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki (w. 2004) mengutip bahwa para Salafunash Shalih menamai bulan Sya’ban sebagai Syahrul Qurra (Bulannya Para Pembaca Al-Qur’an). Beliau menyatakan sudah maklum bahwa membaca Al-Qur’an itu dianjurkan setiap waktu, tetapi lebih ditekankan lagi pada momen-momen penuh berkah nan dimuliakan, seperti bulan Ramadhan dan Sya’ban.

Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur’an, sedangkan bulan Sya’ban adalah bulan memperbanyak membacanya. Dikisahkan, ketika masuk bulan Sya’ban inilah yang dilakukan oleh para sahabat (Rasulullah) dan para ulama : saat memasuki Sya’ban, para Sahabat sibuk dengan mushaf dan membacanya, mereka mengeluarkan sedekah untuk menguatkan orang fakir miskin dalam menyambut Ramadhan, seorang ulama bernama Amru bin Qais, ia menutup tokonya dan membebaskan dirinya dari transaksi dagang, hanya untuk fokus meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, mereka bersiap lebih awal agar saat Ramadhan tiba, lisan mereka sudah terbiasa dan dekat dengan ayat-ayat Allah.

Ada satu lagi rahasia besar di bulan Sya’ban ini. Dari semua persiapan ini penting karena Sya’ban adalah momen laporan tahunan amal (Raf’ul A’mal) kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : Maka aku senang amalku dilaporkan sementara aku sedang dalam kondisi berpuasa (HR. An-Nasai). Banyangkan buku catatan amalmu setahun ini ditutup dengan stempel sedang puasa dan sedang membaca al-Qur’an ini akan menjadi moment indah di sisi Allah.

Dan di pertengahan bulan Sya’ban terdapat malam Nisfu Sya’ban dan di malam ini Allah mengamati setiap makhluk-Nya dan memberikan ampunan seluas-luasnya, kecuali bagi dua golongan yaitu musyrik dan orang yang bermusuhan. Semoga di bulan Sya’ban ini kita mendapatkan limpahan Rahmat, ampunan dan ridho dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Sumber : Ibnu Rajab. 1999. Lataiful Ma’arif (h.258). Damaskus : Dar Ibn Katsir, Al-Khathib asy-Syirbini. 2004. Al-Iqna fi Halli Alfazhi Abi Syuja II/187. Beirut : Darul Kutubil Ilmiyyah, Muhammad Alawi al-Maliki. Madza fi Sya’ban hlm. 44.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: