HIJRAH UMAT ISLAM KE MADINAH MENANDAI MULAINYA KALENDER ISLAM

HIJRAH UMAT ISLAM KE MADINAH MENANDAI MULAINYA KALENDER ISLAM

Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, dalam esainya yang berjudul Syed Naquib Al-Attas the Rectification of Names (Kasurian, 2025), Muhammad Bin Abdul Majid (penulis) menyelami pemikiran filsuf Melayu, Syed Naquib Al-Attas, yang percaya bahwa : Kebangkitan peradaban Islam harus dimulai dari satu hal yaitu meluruskan makna kata-kata.

Namun, di balik orientasi Al-Attas tersebut, terdapat alasan yang lebih dalam yaitu pandangan bahwa setiap pembaharuan peradaban dimulai dengan bahasa serta arsitektur konseptual yang ditopangnya. Sementara yang lain menyoroti sejarah Islam melalui dimensi sosial politik dan ekonominya, Al-Attas berbeda karena penekanannya pada bahasa di atas segalanya.

Dan dalam hal ini, bahasa Arab Al-Quran, sebagai penggerak utama perkembangan peradaban Islam. Kejelasan bahasa Arab Al-Qur’an ini lah yang menjadi ciri khas yang luar biasa dari bahasa Arab itu sendiri. Hal tersebut bisa dilihat dari kata Madinah. Bagaimana caranya ? Mari kita bedah.

Dibangun di atas akar trilateral, penelurusan bahasa Arab bisa mengungkap logika peradaban yang lebih dalam yang menggerakkan pandangan dunia Muslim. Al-Attas menangkap logika ini dalam konsep-konsep yang saling terkait, yaitu : Din (agama), Madinah (kota), dan Tamaddun (peradaban).

Akar kata din, terjemahan umum untuk agama berakar pada trilateral D-Y-N. Kata Madinah (kota) juga diambil dari kata yang sama yaitu D-Y-N yang terkait dengan dayn atau utang. Namun, apa hubungan utang dengan Madinah ?

Seperti semua utang termasuk utang terbesar dari semuanya (yaitu utang kehidupan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia), ia paling baik dilunasi dalam masyarakat yang terorganisir yang dilengkapi dengan hukum dan peraturan yang mengatur utang, penanganannya, dan jaringan kehidupan komersial yang terkait.

Dengan kata lain, utang terbaik dilunasi di kota-kota besar. Tatanan sosial ini diejawantahkan dalam bentuk madinah (kota), yang berasal dari kata kerja maddana, dari mana istilah penting lainnya, tamaddun (peradaban) juga berasal.

Din-Madinah-Tamaddun. Terlihat bagaimana tiga kata ini punya logika yang tergabung. Din (agama)-Madinah (kota), dan Tamaddun (peradaban). Jadi, bukan kebetulan ketika Nabi Hijrah ke Yathrib, nama kota tersebut diubah menjadi Al-Madinah.

Balik lagi, kenapa Hijrahnya Rasul ke Madinah menandai awal mulanya tahun Islam ? Karena di Madinah, din pertama kali bisa ditunaikan secara kolektif, utang (dayn) kehidupan mulai dilunasi bersama-sama dengan cara membentuk tamaddun atau peradaban baru.

Lebih penting lagi apa implikasi pemahaman ini kepada keseharian kita ? Menurut penulis Muhammad Bin Abdul Majid, kerangka din-madinah-tamaddun. Al-Attas di atas berusaha membebaskan diri kita dari cara dunia sekuler modern mengkategorikan agama (yang memisahkan agama dari politik, ekonomi, hukum, kebudayaan), menegaskan Islam sebagai agama sekaligus peradaban.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: