Oleh: Kusmina (SMKN 2 Cirebon)
Latar Belakang
Dewasa ini, tentu kita mengetahui bagaimana suatu pertemanan memiliki pengaruh yang luar biasa dalam perilaku kita. Rasulullah bersabda : “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari)
Maka tak jarang untuk melihat kepribadian seseorang bisa terlebih dahulu melihat kepribadian temannya seperti sabda Rasulullah SAW berikut :
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang bisa dilihat dari perilaku beragama sahabatnya. Hendaklah kalian memperhatikan bagaimana sahabatmu dalam beragama.” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Bahkan syair yang disampaikan Syeikh Az-Zarnuji dalam Ta’lim Al-Muta’allim juga menyebutkan dengan jelas:
عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ قَرِيْنَهُ # فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْمَقارِنِ يَقْتَدِي
“Tak perlu kau tanya tentang seseorang (siapa dia), cukup tanya siapa temannya, maka setiap teman akan mengikuti orang yang dia temani.”
Fenomena yang terjadi di antara anak remaja yang memiliki ikatan pertemanan kuat adalah geng motor dan saat ditanya alasan menjadi anak geng motor, jawabannya adalah teman. Karena saya berteman dengan si A, sehingga ketika dia mengajak saya tidak enak untuk menolak. Masalah yang terlihat remeh, tetapi tidak bisa selesai jika diremehkan.
Penting sekali untuk kita, para pecinta kebenaran yang mencita-citakan masyarakat seimbang untuk memiliki teman yang berlandaskan nilai-nilai Islam agar dapat mencapai tujuan secara tepat. Perlu digarisbawahi bahwa dengan tulisan ini bukan berarti kita tidak boleh bergaul dengan non-muslim melainkan untuk menguatkan pertemanan dalam Islam.
Definisi Pertemanan Islami
Pertemanan berasal dari kata ‘teman’ yang dalam KBBI berarti kawan; sahabat. Menurut istilah pertemanan merupakan suatu ikatan atau hubungan dalam masyarakat yang dibentuk dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan sosial disertai dengan motif yang dapat berubah-ubah.
Sedangkan Islami berarti bersifat Islam atau menggunakan aturan dalam agama Islam. Sehingga pertemanan Islami adalah suatu hubungan di dalam masyarakat yang berpegang teguh pada agama Islam.
Cara Membentuk Pertemanan Islami
Usaha kita dalam mencapai pertemanan islami dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
- Memilih Teman Untuk Pertemanan Islami
Mengapa kita perlu memilih teman? Hal ini adalah langkah pencegahan agar tidak menyesal seperti Bani Israil karena ditekankan lagi bahwa teman adalah orang yang memiliki peran dan pengaruh penting.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Furqan ayat 28 yang berbunyi:
يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا
“Celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).
Dikutip dari Mukhtasar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah menjelaskan melalui kitabnya:
وفى جملة، فينبغى أن يكون فيمن تؤثر صحبته خمس خصال : أن يكون عاقلاً حسن الخلق غير فاسق ولا مبتدع ولا حريص على الدنيا
“Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia”
Dalam mencari teman, kita harus memiliki standar agar memiliki teman yang berkualitas. Di antaranya adalah :
- Memiliki pengetahuan minimal dasar dalam Islam dan pengetahuan umum lainnya
- Memiliki sikap minimal sedang atau sesuai dengan ajaran Islam rasional kebangsaan
Syeikh Az-Zarnuji dalam Ta’lim Al-Muta’allim menyampaikan syair berikut
يَا رَبَدْبَدْ تَرْبُودَا زَمَا رِبَدْ # بِحَقِّ ذَاتِ بَاكِ اللهِ الصَّمَد
يَا رَبَدْ اَرَدْ تَرْأَى سِوَى # جَحِيمِ يَا رَنِيكُو كِيْرَنَيَا بِي نَعِيمِ
“Teman jahat itu lebih berbahaya daripada ular hitam berbisa karena teman jahat itu bisa menjeremuskan kita ke neraka jahiim, oleh karenanya bertemanlah dengan teman yang baik karena teman yang baik itu bisa menyebabkan kita masuk surga.”
- Adanya hubungan dua arah dan respons yang positif
- Memiliki minat untuk menjalin pertemanan Islami dan bersedia untuk konsekuensi sehingga tercapai tujuan bersama
- Membentuk Pertemanan yang Islami
Setelah menemukan teman yang bisa untuk diajak bersama di jalan Allah, selanjutnya adalah kita membentuk bukan sekadar pertemanan biasa, tetapi pertemanan Islami. Langkahnya adalah sebagai berikut :
- Memahami kondisi, kepribadian, dan kesukaan teman
- Menyesuaikan diri dengan baik dan komunikasi secara berkala
- Menyelesaikan masalah yang terjadi dan ikut serta membantu masalah teman jika bisa
- Saling mengingatkan agar tetap mencintai kebenaran dan rasional
- Menyatu dengan pertemanan yang lebih luas lagi sesama Islam, sehingga tidak membatasi diri
Rasulullah SAW bersabda : “Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan. Bila saling mengenal menjadi rukun dan bila tidak saling mengenal menimbulkan perselisihan.” (HR. Muslim)
Kesimpulan
Setelah kita mengulik beberapa hal mengenai pertemanan Islami dan cara membentuknya dapat diambil hikmah bahwa teman merupakan bagian vital yang harus diisi yang mana kita harus pandai menyaringnya. Dibutuhkan waktu dan ilmu dalam bersosialisasi termasuk berteman yang baik sehingga dapat menciptakan lingkungan yang positif dikelilingi banyak ilmu, hikmah, dan manfaat. Dengan demikian, pertemanan yang kita bangun seharusnya pertemanan Islami yang dapat membawa kita kepada tujuan akhir, yaitu akhirat.
