MEMBUKA SISI LAIN BULAN SYA’BAN YANG JARANG KITA DENGAR

MEMBUKA SISI LAIN BULAN SYA’BAN YANG JARANG KITA DENGAR

Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, Bulan Sya’ban adalah bulan di mana kita belajar memanusiakan manusia. Sering disebut sebagai bulan yang terlupakan atau terjepit. Namun sejarah mencatat, di bulan inilah Nabi membangun fondasi sosial terpenting bagi umatnya.

Dulu, di masa Jahiliyah, bulan ini dinamakan Sya’ban (dari kata Tasya’aba : bercabang/berpencar) karena suku-suku Arab berpencar mencari air dan kembali berperang setelah gencatan senjata bulan Rajab. Sya’ban dulu adalah bulan Survival dan konflik.

Namun, Nabi datang mengubahnya. Beliau mengubah energy berpencar untuk menjarah menjadi berpencar untuk menebar kebaikan. Nabi menjadikan Sya’ban bukan lagi bulan perang fisik, melainkan bulan perang melawan ego. Dan bulan Sya’ban disebut juga Bulan Nabi ? Karena di bulan inilah Allah memberikan hadiah terindah kepada sang sosok mulia Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, tepat di pertengahan bulan Sya’ban, Allah mengabulkan kerinduan hati Nabi yang tidak terucap yaitu memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah.

Kita sering dengar bahwa di malam Nisfu Sya’ban, Allah mengampuni semua dosa, kecuali dua orang yaitu musyrik dan mushahin (orang yang bermusuhan/pendendam). Ini adalah mekanisme sosial yang jenius. Tuhan secara tidak langsung menyuruh kita berdamai dengan sesama manusia jika ingin berdamai dengan langit.

Sya’ban adalah bulan Rekonsiliasi. Sebelum masuk pada bulan Ramadhan yang suci, kita harus membersihkan hati dari kotoran dendam dan permusuhan dan di bumi Nusantara (Indonesia), bulan Sya’ban disambut dengan Ruwahan atau Nyadran. Kita memasak, mendoakan leluhur, dan membagikan makanan pada tetangga dan orang-orang yang membutuhkan ini bukan sekadar ritual. Ini adalah Jaring Pengaman Sosial.

Lewat makanan, kita merajut kembali silaturahmi yang mungkin renggang. Lewat doa, kita menghormati akar sejarah keluarga kita. Sya’ban mengajarkan kita untuk tidak shaleh sendirian, tapi shaleh secara sosial. Adapun para Ulama menyebut Sya’ban sebagai bulan mengairi tanaman, sementara Ramadhan adalah bulan panen. Secara sosial, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, memberi teladan dengan memperbanyak puasa di bulan ini. Tujuannya ? Agar fisik dan mental kita tidak kaget saat Ramadhan tiba.

Ini adalah fase adaptasi tanpa bulan Sya’ban, Ramadhan akan terasa berat. Sya’ban adalah jembatan yang lembut yang mengantar kita dari kelalaian menuju kekhusyukan dan di bulan Sya’ban juga turun ayat perintah untuk memperbanyak shalawat sebagaimana disampaikan dalam al-Qur’an pada surat Al-Ahzab ayat : 56). Ini membangun apa yang disebut sosiolog sebagai otoritas karismatik.

Shalawat menyatukan umat Islam dari Maroko sampai Merauke dalam satu frekuensi yaitu cinta kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan di bulan Sya’ban ini, perbedaan bahasa dan budaya lebur dalam satu lantunan rindu yang sama yaitu kerinduan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Di bulan Sya’ban ini. Pertanyaannya bukan berapa banyak puasa yang akan kita lakukan. Tapi sudahkah kita memaafkan ? sudahkah kita membersihkan hati dari rasa dendam ? Karena Ramadhan yang suci, tidak bisa dimasuki oleh hati yang masih kotor oleh kebencian. Dan mari di bulan Sya’ban ini kita perbanyak amal-amal kebaikan sebagai persiapan dalam menyambut bulan Ramadhan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: