Oleh: Rifa Anggyana, S.Pd., M.M. (Ketua Pembina IRMA Provinsi Jawa Barat)
Menjelang akhir tahun dan memasuki tahun baru, umat Islam kerap diajak untuk memperbanyak muhasabah. Namun muhasabah sering kali dipersempit menjadi urusan dosa personal, seolah krisis yang menimpa negeri ini—termasuk bencana berulang di Sumatera—tidak memiliki kaitan dengan cara kita hidup, mengambil keputusan, dan memperlakukan alam. Padahal Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa “telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia” (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini bukan sekadar pengingat spiritual, tetapi gugatan moral terhadap perilaku kolektif umat manusia.
Dalam konteks ini, menyebut bencana semata-mata sebagai takdir tanpa refleksi justru bertentangan dengan semangat ajaran Islam itu sendiri. Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan umatnya untuk pasrah tanpa tanggung jawab. Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad, Rasulullah menegaskan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Jika amanah itu mencakup manusia, maka alam sebagai bagian dari titipan Allah—jelas tidak dikecualikan.
Bencana yang melanda Sumatera hari ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia berkaitan dengan pembiaran kerusakan hutan, eksploitasi sumber daya yang melampaui batas, serta pembangunan yang menyingkirkan etika lingkungan. Ironisnya, semua itu terjadi di tengah masyarakat yang merasa semakin religius. Masjid penuh, simbol keislaman menguat, tetapi kesadaran ekologis justru melemah. Di sinilah Al-Qur’an kembali relevan sebagai kritik, bukan sekadar bacaan seremonial.
Sebagai pembina IRMA, saya melihat ini sebagai tantangan besar bagi dakwah remaja masjid. Remaja masjid tidak boleh hanya didorong menjadi saleh secara ritual, tetapi juga sadar secara sosial. Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Manfaat itu hari ini mencakup keberanian menjaga alam, bersuara terhadap ketidakadilan ekologis, dan menolak cara hidup yang merusak masa depan.
Menyambut tahun baru tanpa perubahan cara pandang hanyalah pengulangan kesalahan lama. Jika muhasabah tidak melahirkan sikap baru, maka ia kehilangan makna. Islam tidak mengajarkan kita hanya menutup tahun dengan doa, tetapi juga membuka tahun dengan amanah. Amanah sebagai khalifah di bumi, sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an, yang kelalaiannya kini kita saksikan dampaknya melalui bencana demi bencana.
Tahun boleh berganti, tetapi jika sikap kita terhadap alam dan sesama tidak berubah, maka peringatan Allah akan terus datang dalam bentuk yang sama. Dan saat itu, yang patut dipertanyakan bukan lagi kekuasaan Allah, melainkan kesungguhan iman kita sendiri.


