Oleh: Arif Rahman Hakim
Berbicara tentang manajemen, tentulah ada beberapa prinsip sebagai pedoman. Menurut penulis ada beberapa prinsip manajemen menurut Al-Qur’an dan Sunnah:
- Prinsip Memilih Pemimpin
Pilihlah pemimpin yang lebih luas ilmunya dan lebih kuat/sehat badannya. Seperti Allah telah memilih Tholut untuk mengalahkan raja Jhalut. Firman Allah, “Wa Zaadahuu basthotan fil ‘ilmi wal jismi.” (Q.S. Al-Baqarah: 247)
- Prinsip Memilih Bawahan
Pilih yang profesional dibidangnya, “Jika pekerjaan tidak diberikan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhori)
- Prinsip Berusaha secara Maksimal
Maksudnya adalah berusahalah semaksimal mungkin untuk mencapai sebuah tujuan. Berusaha sampai titik darah penghabisan. Sesuatu yang diusahakan dengan biasa-biasa saja, maka hasilnya pun akan biasa-biasa saja. Sebaliknya, sesuatu yang dilakukan dengan maksimal, maka insya Allah hasilnya pun akan maksimal. Seperti kata pepatah, “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Dalam satu kesulitan, terdapat banyak kemudahan, “Fainna Ma’al Usri yusron, inna ma’al usri yusron” (QS Al-Insyirah: 6).
- Prinsip Adminstrasi
Prinsip pengadministrasian juga penting dalam manajemen. Dalam arti segala sesuatu harus tertata dan ada bukti yang nyata. “Idzaa tadaayantum bi daini ilaa ajalim musamman faktubuuh.” (QS Al-Baqoroh: 282).
- Prinsip Pengelolaan Keuangan
Dalam pengelolaan keuangan, kita harus balance/seimbang. Jangan terlalu pelit jangan terlalu boros. Kalau terlalu pelit, takutnya nanti target yang dicapai tidak akan maksimal, atau bahkan bisa saja mendholimi bawahan kita. Kita menuntut tanggung jawab yang besar, tapi memberikan pembiayaan yang tidak proporsional. Sebaliknya, jangan terlalu hambur, karena akan merugikan kita atau perusahaan. Kata peribahasa, “Besar pasak daripada tiang.” Seperti Firman Allah: “Wa Laa taj’al yadaka maghlullatan ilaa ‘unuqika walaa tabsuthaa kullal basthi, fataq’uda maluumam mahshuuroo.” (Q.S. Al-Isra: 29)
- Prinsip Memberikan Himbauan dan atau Infomasi
Untuk menyampaikan/mensosialisasikan sebuah keputusan atau kebijakan yang kurang populer, tapi menurut kita ini sangat baik untuk masa depan organisasi atau lembaga. Maka proses pendekatannya pun ada beberapa tahap. Pertama, ajaklah dengan cara yang bijak. Kedua, Nasihati dengan tutur kata yang baik. Ketiga, ajak berdiskusi agar dia bisa mengerti bahwa keputusan itu adalah demi kebaikan bersama. “Ud’uu ilaa sabiili Robbika bil hikmati, wal mau’idhotil hasanati, wa jaadilhum billatii hiya ahsan.” (Q.S. An-Nahl: 125)
- Prinsip Pendekatan
Pendekatan mesti dilakukan agar segala yang kita sampaikan/anjurkan dapat diikuti dan dilaksanakan oleh orang yang kita ajak. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kasih sayang. Kita mesti mendekati bawahan atau rekan kerja dengan cara yang lemah lembut, bukan dengan cara yang kasal, atau frontal. Kalau tidak demikian, maka mereka akan lari dan menjauhi kita. Nah ketika kita sudah berkata dengan lemah lembut, ketika mereka belum bisa menerima pendapat kita, maka maafkanlah, dan mohonkan ampunan juga hidayah untuk mereka. Jangan lupa, untuk bermusyawarah dalam segala urusan. Ketika kata sepakat sudah didapat, maka bertawakkallah, serahkan semua kepada Allah SWT. Firman Allah, “Fabiimaa Rohmatim Minallahi linta lahum. Walau kunta fadhon gholiidal Qolbi, lanfaddhuu min haulik. Fa’fu ‘anhum wastagfir lahum, wasyaawirhum fil amri, faidzaa ‘azamta fatawakkal ‘Alallah.” (QS Ali Imron: 159)

