SAAT MEMBAHAS SOAL PENDIDIKAN, KITA SELALU MELUPAKAN SATU HAL INI DAN AL-QUR’AN JELASKAN SEMUANYA

SAAT MEMBAHAS SOAL PENDIDIKAN, KITA SELALU MELUPAKAN SATU HAL INI DAN AL-QUR’AN JELASKAN SEMUANYA

Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah. Ada yang aneh dengan cara kita memandang pendidikan. Ada yang lulus dengan nilai terbaik, tapi tidak bisa duduk bersama orang yang berbeda kelas sosialnya. Ada yang hafal teori-teori keadilan, tapi tidak tahu tetangganya sedang kesulitan makan. Ada yang bisa berdebat tentang kemiskinan di seminar, tapi tidak pernah benar-benar merasakannya dari dekat. Kalau pada akhirnya pendidikan hanya membuat kita semakin nyaman di dalam gelembung sendiri, mungkin yang bertambah hanyalah gelar. Bukan pemahaman.

Al-Qur’an menempatkan ilmu di posisi yang sangat tinggi. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman : Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah ayat : 11). Tapi perhatikan yang sering kita lewatkan : Allah tidak menyebut gelar, tidak menyebut IPK, tidak menyebut nama kampus. Dalam Al-Qur’an, ilmu yang sesungguhnya tidak pernah bisa dipisahkan dari dampaknya kepada cara kita memperlakukan manusia lain. Ilmu yang tidak mengubah akhlak, bukan ilmu yang Al-Qur’an maksud.

Qarun, manusia paling kaya di zamannya. Ilmu dan kecerdasannya tidak perlu diragukan. Ketika orang-orang mengingatkannya untuk peduli, ia menjawab : Dia (Qarun) berkata, Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku. Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat dari padanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta ? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka. (QS. Al-Qasas ayat : 78).

Ilmu yang dimiliki Qarun tidak membuatnya lebih dekat kepada manusia. Ia membuatnya merasa berhak atas segalanya. Merasa berbeda, merasa tidak perlu peduli, dan Al-Qur’an mencatat bagaimana akhirnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tidak pernah mengajarkan ilmu dari jarak yang aman. Ia duduk bersama orang miskin, makan bersama budak, mendengar keluhan dari anak yatim dan umatnya dengan cara yang sama ia mendengar pembesar kota. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. Ahmad).

Bukan yang paling tinggi gelarnya. Yang paling bermanfaat. Karena itu yang membedakan gelar dan pemahaman. Ilmu dan hikmah. Karena ilmu yang punya ruh, selalu berakhir pada manfaat nyata untuk manusia yang nyata.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: