Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, bayangkan sebuah kota di mana anak-anak berjalan menuju majelis ilmu tanpa membawa uang, hanya membawa rasa ingin tahu.
Langkah yang tidak muncul tiba-tiba. Ada tangan dermawan yang bekerja dalam sunyi, ada harta yang diwakafkan agar ilmu terus bergerak. Madrasah, Kuttab, dan Khanqah berdiri di atas wakaf. Makan, tempat tinggal, dan kitab tersedia. Sehingga belajar dapat menjadi urusan semua orang.
Di ruang-ruang itulah masa depan disusun. Anak tidak berpunya sejajar dengan anak bangsawan. Ilmu mempertemukan mereka tanpa jarak. Kesadaran ini tumbuh dari iman. Melakukan kebaikan yang dipahami sebagai jalan hidup. Mendukung ilmu menjadi amal yang dijaga keberlangsungannya.
Pendidikan gratis itu pernah hidup. Ia tumbuh bersama wakaf, ia menggerakkan peradaban. Warisan ini masih ada, sedang menunggu untuk dihidupkan, lagi. Sebuah peradaban besar tidak lahir dari gedung megah, tapi dari orang-orang yang rela mewakafkan hartanya untuk dunia pendidikan sehingga ilmu terus berjalan untuk memberikan manfaat kepada umat.
