Rifa Anggyana Raih Gelar Doktor di UPI dengan Fokus pada Pendidikan Karakter Nasionalis Religius melalui Ekstrakurikuler Keagamaan

Rifa Anggyana Raih Gelar Doktor di UPI dengan Fokus pada Pendidikan Karakter Nasionalis Religius melalui Ekstrakurikuler Keagamaan

Bandung, 30 Januari 2026 – Rifa Anggyana, seorang akademisi dan aktivis sosial, baru-baru ini menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), meraih gelar Doktor Pendidikan Kewarganegaraan. Disertasinya yang berjudul “Pendidikan Karakter Nasionalis Religius Melalui Ekstrakurikuler Keagamaan (Studi Kasus pada Ikatan Remaja Masjid (IRMA) di SMA/SMK/MA Kota Bandung)” menyoroti pentingnya pendidikan karakter berbasis religiusitas dan nasionalisme untuk membentuk generasi muda yang memiliki integritas dan siap menghadapi tantangan global.

Pendidikan karakter menjadi salah satu prioritas utama dalam mempersiapkan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi yang pesat, tantangan utama yang dihadapi bangsa ini adalah menjaga moralitas dan kesatuan bangsa, terutama di kalangan generasi muda. Rifa, dalam penelitiannya mengangkat peran penting kegiatan ekstrakurikuler seperti Ikatan Remaja Masjid (IRMA) dalam membangun karakter nasionalis religius di sekolah-sekolah menengah.

Nilai-nilai karakter moderat yang dibangun dengan mengintegrasikan nilai-nilai luhur nasionalis dan agamis ini, memberikan dampak yang signifikan dalam pembangunan karakter generasi Z. Dengan karakter yang kuat, yang didasari oleh kecintaan terhadap tanah air dan kedalaman spiritualitas, generasi muda dapat berperan aktif dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045. Hal ini menekankan pentingnya integrasi karakter nasionalis-religius yang tak hanya membentuk individu yang cerdas, tetapi juga memiliki jiwa kebangsaan yang kokoh serta kedewasaan sosial yang tinggi.

Penelitian yang dilakukan di tiga sekolah di kota Bandung SMAN 18 Bandung, SMKN 12 Bandung, dan MA Nurul Iman Bandung menunjukkan bahwa pembinaan karakter melalui IRMA tidak hanya memupuk sikap cinta tanah air dan religiusitas yang konsisten, tetapi juga meningkatkan rasa toleransi dan inklusivitas sosial di kalangan siswa. Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan IRMA mencakup kajian keagamaan, pelatihan kepemimpinan, serta berbagai kegiatan sosial dan budaya yang mendukung pengembangan karakter siswa secara holistik.

Rifa, mengungkapkan, “Pendidikan karakter yang mengintegrasikan nilai-nilai religius dan kebangsaan sangat relevan di Indonesia, mengingat situasi sosial yang semakin kompleks dan tantangan intoleransi yang semakin meningkat. Melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti IRMA, siswa tidak hanya dibekali dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga dengan karakter yang kokoh yang akan menjadi landasan bagi mereka untuk berkontribusi pada kemajuan bangsa.”

Penelitian ini juga mengungkap adanya tantangan dalam pelaksanaan pendidikan karakter di lapangan, seperti terbatasnya waktu, ketidakmerataan partisipasi siswa, dan pengaruh negatif media sosial. Meskipun demikian, Rifa juga menawarkan solusi berupa peningkatan komunikasi dan kolaborasi antar sekolah, serta sinergi antara sekolah, orang tua, dan lembaga keagamaan, untuk memastikan implementasi yang lebih efektif.

Hasil penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan kebijakan pendidikan di Indonesia, khususnya dalam penguatan pendidikan karakter yang berbasis pada nilai-nilai nasionalisme dan religiusitas. Dengan semangat Indonesia Emas 2045, Rifa berharap agar kebijakan yang dihasilkan dapat memperkuat karakter generasi muda Indonesia, menjadikannya lebih siap untuk menghadapi tantangan global dengan sikap inklusif, toleran, dan berintegritas.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: