Berkelana dengan Luka

Berkelana dengan Luka

Oleh: Intan Safitri – SMK Negeri 5 Kota Bekasi

Hal yang paling menyakitkan adalah kehilangan diriku sendiri.

            “Kenapa masih diam di sini?”

Tanya seseorang berdiri di sampingku, dia Hilya, sahabatku.

“Lihat langit. Aku ingin pulang. Allah rindu aku tidak, ya?” tanyaku polos.

Aku terus melihat ke atas, melihat langit dengan segala keindahannya. Lukisan terbaik yang Allah ciptakan. Warnanya menenangkan, seraya Allah terus mendekapku, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang.

“Allah tidak akan merindukan umatnya kalau dia ingin pulang sebelum waktunya, Putri. Kamu tidak lelah berucap seperti itu? Jiwamu yang dulu ke mana?” tanya Hilya.

“Aku berantakan sekali. Sudah aku coba bereskan, ternyata puing-puing di kehidupanku masih tersisa. Sakit, ya? Allah selalu memberikanku kesulitan, tingkatnya sekaligus tinggi, aku tidak mampu,” ujarku sembari menangis.

Hilya akhirnya memilih duduk di sampingku, mengusap bahuku perlahan. “Kalau kamu tidak mampu menjalani kehidupan yang sudah Allah gariskan, tubuhmu tidak akan melihat langit yang indah sore ini, Put. Cobalah menikmati hidup karena hal-hal kecil, melihat langit, dan melihat senja, agar kamu tahu bagaimana perjalananmu selama menjalani pahitnya kehidupan.”

“Kamu tidak tahu rasanya jadi aku, Hil. Semua orang bisa berbicara seperti itu, semua orang bisa berpendapat bahwa semua akan baik-baik saja, tapi tidak denganku yang menjalani hidup. Aku rapuh, Hil. Aku sakit. Jiwaku hilang, ragaku terombang-ambing. Aku lemah, aku berantakan,” ucapku dengan suara bergetar.

Hilya mendekap wajahku, kami berdua saling menatap satu sama lain.

“Tatap aku, Put. Percayalah padaku, akan ada kebahagiaan di ujung sana. Percayalah kalau Allah sudah mempersiapkan kebahagiaan terbaik di luar ketidakmungkinan yang selama ini kamu tidak sangka. Allah itu Maha Baik, Put. Allah tidak sejahat itu memberikan luka tanpa obatnya, itu semua mustahil.”

“Kalau kamu merasa gagal hari ini, kamu kehilangan jati dirimu, pulang terbaik ke Allah dengan cara beribadah, berserah diri, berdoa. Jangan biarkan semua luka menguasai dirimu menjadi emosi untuk meninggalkan segala kewajibanmu. Itu sangat buruk.”

“Aku tidak mau melihatmu terus seperti ini, Put. Pulanglah menjadi jiwa yang dulu, tenang dengan semua permasalahan. Lukamu, adalah lukaku. Bahagiamu, adalah bahagiaku. Kita berteman. Maka dari itu kita lewati proses ini bersama.”

Hilya benar-benar mengerti apa yang aku rasakan.

“Tapi aku ingin bahagia, Hil!” bentakku di hadapannya.

“Cobalah berdamai dengan dirimu sendiri. Maafkan yang sudah terjadi. Perlahan lukamu akan menyusut, walaupun tidak akan pernah pupus. Setidaknya jiwamu sedikit tenang,” jawab Hilya masih dengan tenang.

Aku merenung diiringi air mata yang masih berjatuhan. Seperti merasakan, langit pun ikut menangis. Rintik demi rintik membasahi aku dan Hilya. Senja kali ini libur dulu sepertinya, digantikan dengan air hujan yang membantuku untuk tenang.

Merasa lega dengan permasalahan, meskipun belum usai. Setidaknya aku harus membereskannya lagi. Meskipun sudah berantakan, setidaknya aku harus berusaha menjadi seseorang yang indah seperti senja. Warnanya menarik, meskipun entah mengapa alasannya rela untuk dinikmati dan membuat semua orang bahagia.

Aku harus percaya, aku punya Allah.  Bumi saja bisa berganti malam dan pagi. Pasti hidupku bisa berubah dari sedih hingga bahagia. Semangat diriku!

***

Tengah malam.

Ketika semua orang tertidur lelap, aku memilih untuk bangun. Mengambil air wudu dan menjalankan salat tahajud. Sudah lama sekali aku tidak melaksanakan yang biasa aku kerjakan. Aku lupa, sebab emosiku menguasai diriku.

Di sujud terakhir, aku melihat sajadah yang sangat indah. Air mataku turun begitu saja. Hatiku kembali teriris dengan kejadian yang membuatku memiliki luka sedalam ini. Bibirku kelu, ingin memanjatkan doa akhirnya terganti menjadi isak tangis.

Di sela-sela tangis yang pecah, aku kembali mengingat bagaimana keindahan terindah sebelum keluargaku hancur. Aku tidak sendiri saat itu, aku menjadi seseorang yang merasa sempurna. Hingga akhirnya, sekarang aku menjadi seseorang yang berkelana dengan luka.

Aku menjadi seseorang yang rapuh, menjadi insan yang lupa, menjadi insan yang berantakan.

Semua hal aku tinggali, hingga aku lupa memiliki Allah sang Maha Baik.

Yaa Allah, di sela-sela isak tangisku yang di mana hanya Engkau yang mendengar, tolong berilah keindahan untuk hidupku.

            Yaa Allah, di sela-sela kehidupanku yang hancur, kuatkanlah aku dan bimbinglah aku, ingatkan aku kepada-Mu, Yaa Allah.

            Yaa Allah, di sela-sela luka yang selama ini aku rasakan, berilah aku kebahagiaan yang cukup baik di waktu yang telah Engkau tentukan.

            Yaa Allah, di sela-sela kalimat aku ingin pulang, maka izinkan hamba-Mu untuk pulang selalu mengingat-Mu. Bahwa aku memiliki Engkau sang Maha Baik. Engkau telah menyiapkan skenario terbaik untukku, aku yakin itu.

            Jiwaku merasa tenang setelah mengeluarkan semua ini. Aku merasa Allah sedang mengusap kepalaku. Engkau Maha Baik, Ya Rabb. Terima kasih telah mendengarkan semua harap dan doa yang aku panjatkan.

Engkau selalu di hatiku, selamanya. Engkau tempat pulang terbaik. Engkau tempat mengadu. Engkau cahaya hidupku, Ya Rabb.

Setelah selesai, aku mengambil pedoman hidupku, Al-Quran. Sudah lama sekali aku tidak menyentuhnya hingga berdebu. Aku sudah benar-benar jauh kala itu.

Bismillah, Yaa Allah. Aku pulang kepada-Mu dengan cara mendekatkan diri kembali kepada-Mu. Terima kasih telah memberiku petunjuk. Terima kasih telah memberiku teguran.

            Hidupku tanpa-Mu, bagaimakan ruangan tanpa lampu, pasti akan gelap. Jika hidupku selalu berada di dekat-Mu, aku percaya hidupku akan terang. In syaa Allah.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: