Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Ki Hajar Dewantara sudah memprediksi krisis pendidikan modern sejak 1992. Beliau menolak sistem pendidikan kolonial Belanda yang terlalu materialistik dan menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Pendidikan bukan soal mengejar nilai dan ranking, tapi soal membebaskan manusia secara lahir dan batin dari cengkraman penjajahan. Sayangnya, kita masih terjebak di sistem yang sama hingga kini. Trilogi legendaris dari Ki Hajar Dewantara yaitu Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, ditengah membangun semangat, dibelakang memberi dukungan. Ini bukan sekadar slogan, tapi sistem pendidikan revolusioner. Guru bukan diktator tapi facilitator. Anak bukan robot tapi manusia merdeka yang punya pilihan untuk memilih kehidupan menuju arah yang lebih baik.
Konsep Tri Sentra Pendidikan Ki Hajar Dewantara melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiganya harus bersinergi, bukan saling menyalahkan. Dimana keluarga membentuk karakter, sekolah mengembangkan intelektual, masyarakat memberi pengalaman nyata, dan disaat salah satu lemah, maka pendidikan jadi gagal total.
Sistem Among revolusioner : larangan keras menghukum dan memaksa anak. Dimana pendidikan harus penuh kasih sayang, buah dari asih (kasih), asah (belajar), asuh (bimbing). Hasilnya anak-anak Taman Siswa jadi generasi emas Indonesia yang memiliki pemikiran kritis, kreatif, berkarakter kuat. Mereka yang membangun negeri ini dari kolonial menuju kemerdekaan.
100 tahun berlalu, tapi gagasan Ki Hajar Dewantara makin relevan. Merdeka belajar hari ini adalah cerminan dari visi beliau.
Sumber : Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara.


