Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, sebagian dari kita pasti pernah gelisah memikirkan masa depan yang belum terjadi ataupun menyesali masa lalu yang sudah berlalu. Maka bagaimana cara mengatasinya mari kita simak paparan penjelasannya.
Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad menyebutkan bahwa waktu-waktu kita dalam sehari (24 jam) itu diibaratkan seperti 24 lemari penyimpanan yang tertutup rapat. Lemari-lemari ini hanya akan dibuka satu-persatu kelak di hari kiamat.
Di antara lemari tersebut kelak akan ada lemari yang berisi kilauan cahaya, yaitu karena kita mengisi waktu kita dengan ketaatan. Di sisi lain ada lemari yang ketika dibuka berisi kegelapan, yaitu karena kita mengisi waktu kita dengan kemaksiatan.
Dan di sisi lain juga ada lemari yang kosong, yaitu karena di waktu tersebut kita melakukan hal yang sia-sia (bukan ketaatan, namun juga bukan kemaksiatan). Maka ketika kita melihat lemari yang kosong tersebut kita akan mengalami penyesalan yang sangat besar karena kita tidak memanfaatkan waktu yang kosong itu.
Pelajarannya adalah bahwa yang membuat kita gelisah selama ini adalah karena kita hanya fokus pada masa lalu dan masa depan saja, namun kita melupakan satu rahasia waktu yang sebenarnya justru dapat menentukan nasib kita apakah beruntung atau menyesal yaitu masa sekarang.
Beruntung bila kita isi dengan ketaatan atau suatu yang bermanfaat dan penyesalan bila kita isi dengan kemaksiatan ataupun hal yang sia-sia. Oleh karena itu manfaatkanlah masa sekarang yang kita miliki untuk mendapatkan kebahagiaan yang abadi.
Sebagaimana Imam Ghazali juga menasehatkan : Waktu-waktumu adalah umurmu, dan umurmu adalah modal utamamu. Dengan modal itulah yang menjadi pondasi bisnismu (dengan Allah), dan dengan modal itulah kamu sampai pada kebahagiaan abadi di sisi Allah.
Karena bukan masa lalu yang menentukan nasibmu, bukan pula masa depan. Tapi apa yang sedang kamu lakukan detik ini.
Sumber : An-Nashaih Ad-Diniyyah.


