Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Setiap amal tergantung niatnya. Kadang kita merasa sudah banyak berbuat, tapi lupa meluruskan alasan di baliknya. Berbuat baik tapi ingin dilihat, membantu tapi ingin dipuji. Dari hadits ini kita belajar bahwa Allah tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tapi juga kenapa kita melakukannya.
Dunia itu sementara, hati jangan ikut terikat. Dalam hadits-haditsnya, kita sering diingatkan dunia ini hanya tempat singgah. Bukan berarti kita harus meninggalkan dunia, tapi jangan sampai : Hati terlalu melekat pada dunia, ambisi dunia membuat lupa akhirat, sibuk mengejar dunia hingga lalai dalam ibadah dan amal kebaikan.
Jalan shalih itu konsisten, bukan instan. Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus dilakukan, walau sedikit. Bukan soal : Banyak tapi hanya sesekali semangat di awal, lalu hilang tapi tentang sedikit, tapi rutin, sederhana, tapi istiqamah.
Dalam Riyadhus Shalihin, kita diingatkan hal yang sangat mendasar bahwa amal bukan hanya tentang apa yang terlihat, tapi tentang apa yang tersembunyi di dalam hati. tentang niat yang sering luput diluruskan, tentang dunia yang diam-diam mulai memenuhi hati hingga membuat hati kita lalai dalam mengingat Allah.
Dan tentang langkah kecil yang sering diremehkan, padahal justru itu yang paling dicintai Allah jika terus dijaga. Hidup ini tidak harus langsung berubah drastis. Cukup mulai dari yang sederhana dengan meluruskan niat, mengurangi keterikatan pada dunia, dan menjaga amal kecil agar tetap hidup setiap hari.
Karena kesalehan bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang tetap berjalan dalam keistiqomahan dalam melakukan amal kebaikan. Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya berbuat baik, tapi juga menjaga hati dengan niat yang lurus semata untuk meraih ridho Allah di balik setiap kebaikan.


