Oleh: Sania Agustiani (SMAN 1 Mangunjaya)
Seorang gadis berseragam putih abu melangkah memasuki gedung sekolah. Wajahnya berseri menyambut pagi hari yang sangat indah, karena hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah di semester baru.
“Hai, Manda!” sapa temannya setelah Manda memasuki kelas.
“Hai!” balas Manda ramah, kemudian duduk di kursinya.
Nama gadis itu adalah Marsyanda, sering dipanggil Manda sejak ia duduk di bangku TK. Sejak kecil Manda senang mengoleksi piala, medali dan sertifikat penghargaan. Gadis dengan segudang prestasi itu mengikuti banyak kegiatan, karena bakatnya yang luar biasa dan fisiknya yang kuat. Baik di bidang akademik maupun non akademik.
Di SMA pun kini Manda mengikuti banyak ekstrakurikuler, karena ia senang mencoba hal baru dan mencari pengalaman.
“Manda, ikut Paskibra, yuk!”
“Manda, gabung Pramuka, yuk!”
“Manda, kamu punya bakat di seni, ikut seni ya?”
“Di IRMA banyak kegiatan menarik dan positif lho, Man. Ikut yuk!”
Begitulah kata teman-teman dan kakak kelasnya saat mengajak Manda untuk bergabung ke berbagai ekstrakurikuler. Tanpa pikir panjang, Manda menyetujui semua ajakan itu. Bahkan tidak cukup dengan Paskibra, Pramuka, Seni, dan IRMA saja, Manda juga masih mengikuti ekstrakurikuler lainnya seperti basket dan English Club.
Selesai jam pelajaran sebagian teman-temannya pergi ke luar kelas, mereka ingin segera pulang dan merebahkan badan di tempat ternyaman yaitu kasur. Pembelajaran Fullday membuat mereka cukup lelah, letih, lesu dan lunglai. Tapi tidak dengan gadis yang mempunyai semangat tinggi yaitu Manda.
“Sa, ayo ganti baju dulu, kita gak boleh telat ke lapangan” ajak Manda kepada Sasa. Teman sebangkunya yang sama-sama mengikuti Paskibra.
Bukannya beranjak Sasa memilih untuk tiduran di meja “Nanti aja, Man. Aku masih pusing sama matematika. Kamu gak cape apa?”
“Enggak, ya udah aku duluan ya” Manda berbalik dan melangkah ke luar kelas.
Sasa ikut berdiri dan segera menyusulnya “Ihhh tungguinnnn” teriaknya kepada Manda.
Hari semakin sore. Setelah selesai kegiatan ekskul Paskibra Sasa pamit pulang terlebih dahulu. Tidak dengan Manda, gadis itu masih ada kegiatan lain yang harus diikuti.
“Assalamualaikum” ucap Manda ketika memasuki masjid. Ada banyak anggota IRMA yang sedang duduk berkumpul seperti sedang mendiskusikan sesuatu.
“Waalaikumsalam” jawab teman-temannya serentak.
Manda menghampiri satu per satu teman-teman IRMAnya untuk bersalaman kecuali dengan laki-laki.
“Maaf ya, Kak, aku telat. Baru selesai dari Paskibra” ujar Manda tidak enak hati. Ia masih mengenakan seragam olahraga.
“Gak apa-apa. Manda udah sholat? Kalau belum shalat dulu aja” ujar seorang lelaki yang menjabat sebagai ketua.
“Iya, Kak” lantas Manda segera mengambil air wudhu.
Setiap kali Manda merasa kecapekan, tetapi jika sudah masuk masjid dan bergabung dengan IRMA, lelah Manda seakan lenyap dan digantikan oleh ketenangan hati.
Selepas shalat Manda kembali bergabung.
“Man, besok kamu jadi pembawa acara ya?” ujar sang ketua tiba-tiba.
“Eh, mau ada acara apa, Kak?”
“Pengajian tiga bulan sekali yang bertempat di sekolah kita”
Manda mengangguk patuh “Siap, Kak”
“Sip” respon sang ketua sambil mengacungkan jempol. Manda memang selalu bisa diandalkan.
“Eh! Tapi, Kak” Manda baru teringat bahwa besok ada ekskul lain “Besok aku ada ekskul Pramuka, Kak”
“Terus gimana? Kamu tadi udah bilang siap lho”
****
Esok harinya Manda memilih mengikuti pengajian. Untuk memutuskan Manda ikut ke Pramuka atau IRMA sebelumnya ia meminta saran kepada sang bunda. Dan kata bunda, lebih baik Manda ikut pengajian alasannya karena lebih bernilai positif.
“Gak apa-apa, deh. Sekali-kali izin Pramuka” gadis yang sedari tadi berbicara sendiri itu mengetikkan sesuatu di ponselnya. Ia mengirim pesan berisikan permohonan izin yang mendadak, karena tidak dapat mengikuti kegiatan Pramuka.
Para tamu terlihat mulai berdatangan, tanda acara akan segera di mulai.
Manda melangkah memasuki panggung. Kemudian menerima mik yang diberikan panitia lantas berucap lantang “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”
Seluruh hadirin pun menjawab kompak “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”
“Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt. yang mana telah memberikan kita nikmat sehat…” Kemahirannya dalam membawakan acara merupakan wujud dari pengalamannya saat menjadi MC di berbagai acara kala ia masih duduk di bangku SMP.
Itulah prinsip Manda. Dengan pengalaman ia bisa mendapatkan banyak hal baru.
Acara selesai dengan lancar tanpa ada halangan apapun. Kini waktunya mereka menyantap jamuan.
Datang seorang gadis dengan seragam pramuka. “Manda” panggilnya.
Manda beranjak, lalu menghampiri sang teman.
“Iya?”
“Kamu dipanggil Kak Nio suruh menghadap” tuturnya.
Seketika raut wajah Manda berubah bingung. Ada apa Kak Nio memanggilnya? Bukankah tadi Manda sudah izin?
“Ohh, oke, makasih ya” ucap Manda.
Sebelum gadis penghantar info itu berbalik, ia berkata “Sama-sama”
Manda menghampiri Kak Nio yang sedang mengobrol santai dengan teman-temannya.
“Permisi, Kak”
Nio menoleh kemudian berdiri tegak. Ekspresinya yang semula terlihat santai dengan sekejap kini berubah datar.
“Kakak manggil aku? Ada apa, Kak?”
“Iya. Sini kamu!” perintahnya tegas.
Manda melangkah maju lebih dekat.
“Saya kasih waktu 1 menit untuk kamu intropeksi diri salah kamu di mana.” Manda menelan ludah susah payah. Otaknya segera ia putarkan untuk mengingat-ingat kesalahan apa yang telah di perbuatnya hari ini.
Sepatu Nio mengetuk lantai membuat irama detak jarum jam.
“1 menit” ucap Nio menginterupsi. Manda melebarkan matanya. Karena kepanikannya waktu satu menit seperti terasa 10 detik saja.
“Jadi, Apa salah kamu?”
Manda menggeleng pelan.
Nio berdecak marah. “Kamu tau posisi kamu sebagai calon BPH, tapi berlaku seenaknya”
Manda yang semula menunduk kini wajahnya terangkat menatap Nio. “Maaf Kak, berlaku seenaknya maksudnya bagaimana? Aku udah izin ke krani”
“Kapan?” Nio bertanya bukan karena dia tidak tau. Jelas dia pasti tau, karena informasi telah diterima melalui krani. Hanya saja Nio ingin tahu bagaimana respon gadis ini.
“Tadi pagi” ucap Manda ragu.
Nio menatap gadis di depannya tegas “Kemarin kamu bersedia hadir. Artinya kamu sudah membuat janji bahwa kamu akan hadir. Tapi pagi tadi kamu membatalkan janji itu”
Lelaki yang sedang mengevaluasi Manda memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. Lantas memperingati “Asal kamu tahu, sopan santun permohonan izin yang betul bukan melalui pesan Whatsapp, Manda, kecuali jika situasinya memang tidak memungkinkan. Kamu bisa saja menghampiri saya atau rekan saya untuk izin” Nio terus berkata. Tidak membiarkan Manda untuk berbicara walau satu kata saja.
“Saya tidak melarang kamu pergi kemana pun pagi ini, tapi tolong, gunakan sopan santun kamu. Ingat kamu calon BPH”
Setelah Nio diam beberapa saat, Manda pun berucap “Maaf Kak, boleh aku bicara?”
“Silahkan”
“Terima kasih, Kak. Terima kasih sudah memberi tahu kesalahan aku, sehingga bisa aku akui sekarang aku salah. Aku minta maaf dan jika ada konsekuensi yang harus aku terima, aku akan terima Kak konsekuensinya”
“Tiga seri” tutur Nio tegas.
Manda mengangguk mengerti. Ia langsung memposisikan dirinya di posisi bending. Kemudian mulai menghitung dengan melakukan bending di depan Nio.
Manda menghempaskan dirinya di kursi. Nafasnya masih terengah, akibat 30 kali bending. Ia merenung sebentar, tapi kemudian mengerjap, karena mendapat sebuah notifikasi pesan.
BASKET CLUB
Kak Jojo : @Manda kamu niat gak join basket? Dalam satu bulan masa ikut latihan cuma sekali.
Kak Cika : kick
Canda:v
Manda menutup ponselnya lalu menyandarkan dirinya di kursi. Ia menghela napas. Jadwal ekskul basket berbentrokan dengan ekskul seni. Belum lagi dengan ekskul lainnya yang terkadang datang informasi dadakan bahwa harus hadir pada hari itu juga.
Dan alasan Manda izin bahkan bolos ekskul bukan karena bentrok dengan ekskul lain saja, tetapi akhir-akhir ini ia sering merasa cepat lelah. Kenapa daya tahan tubuhnya tidak sekuat dulu lagi semasa SMP? Kenapa sangat berbanding terbalik dengan sekarang di SMA?
Manda masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Pandangannya lurus dan melamun.
Seseorang datang dan mengibaskan tangannya di depan wajah Manda. “Assalamualaikum, Manda”
Manda teralihkan dari lamunannya. “Eh, waalaikumsalam. Kak Halimah ngagetin aja” padahal Halimah datang bukan untuk mengagetkan, justru Halimah mengulang salamnya sampai tiga kali, karena tidak didengar.
“Ngapain di sini sendiri, Man? Ngelamun lagi, ih, serem” kata Halimah bercanda.
Jika Halimah dan Manda sudah bertemu pasti mereka berdua akan bercanda tawa membahas apapun, tapi kali ini tidak.
Manda hanya tersenyum simpul merespon candaan dari kakak kelasnya yang akrab di IRMA.
“Ih, mukanya gak asik banget kayak tutup termos” lagi-lagi Halimah melontarkan candaan yang hanya dibalas dengan senyum sekilas.
Halimah pun duduk di samping Manda “Hmm.. What’s the problem?” (Hmm.. Apa masalahnya?)
Manda menghela napas. Ia ingin mencari solusi terbaik dari kebingungannya saat ini dengan cara curhat kepada Kakak kelasnya yang mungkin akan paham dengan situasinya saat ini “Aku cape, Kak, ikut banyak ekstrakulikuler” tuturnya mengeluh.
Halimah setia mendengarkan. Ia tidak akan bicara sebelum Manda berhenti bicara.
“Tapi aku suka semua bidang yang aku ikuti. Mulai dari Pramuka, Seni, IRMA, Basket dan yang lainnya. Karena niat aku pengen mengembangkan bakat dan keaktifan melalui ekstrakurikuler” Manda menunduk “Tapi aku susah ngejalaninnya, Kak. Aku udah dorong diri sendiri buat terus maju dan pantang menyerah, tapi sejauh ini aku capek banget, aku gak tau lagi aku capek, Kak”
Setelah Halimah yakin Manda tidak akan berbicara lagi, sekarang Ia yang berbicara. “Waktu awal-awal Kakak masuk SMA juga sama kayak Manda. Kakak aktif di tiga ekskul sampai akhirnya Kakak lebih pilih IRMA, tapi denger cerita Manda yang ternyata lebih dari tiga ekskul itu hebat banget, sih”
“Hebat apanya, Kak. Basket sama English Club aja bolos mulu” tuturnya menyesal kepada diri sendiri.
“Kalau kelas 1 SMA itu emang masih masa pengenalan lingkungan baru, makanya wajar aja Manda ikut banyak ekskul” Halimah tersenyum mencoba menenangkan.
“Karena sekarang Manda udah kenal gimana capeknya di SMA, saran Kakak kamu analisis ekskul mana yang akan kamu butuh untuk kedepannya dan ekskul mana yang cukup sekedar kamu tau aja kayak untuk mencari pengalaman” Manda benar-benar mendengarkan Halimah.
Halimah menghela napas sejenak kemudian melanjutkan “Man, Allah memberikan banyak pilihan, banyak kemampuan, banyak bakat, supaya kita bisa memilih mana yang baik. Maaf nih, Man, Kakak kasih contoh ketika kamu ikut tari kamu gak pakai kerudung, kan?”
“Ehmm.. gitu ya, Kak”
“Ayo seleksi lagi, Man. Cari pengalaman udah, sekarang saatnya cari Allah. Karena yang terbaik buat kamu belum tentu yang terbaik buat Allah”
Manda mengangguk. “Bener kata Kakak. Ehmm.. akhir-akhir ini aku emang jauh dari Allah. Kayaknya aku pilih IRMA dan pramuka. Di pramuka aku udah pegang amanah jadi calon BPH”
“Gak mau pikir panjang lagi, Man? Yakin keputusan kamu udah mateng?”
Manda mengangguk lagi “Iya, Kak. In Syaa Allah yakin”
Halimah menepuk satu pundak Manda, lalu berseru “Semangat!”.
Manda tersenyum lebar, lalu mengangguk mantap. “Siap 86! Hahaha”
– TAMAT –

