MENGAPA HARI ASYURA SANGAT ISTIMEWA

MENGAPA HARI ASYURA SANGAT ISTIMEWA

Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, ketika Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, tiba di Madinah Beliau melihat kaum yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Lalu beliau bertanya : Hari apakah ini ? mereka menjawab ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari ini. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : Aku lebih berhak terhadap Musa dari pada kalian, kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.

Hari Asyura bukan sekadar mengenang sejarah. Hari Asyura adalah hari kemenangan kebenaran atas kebatilan. Banyangkan Nabi Musa tidak memiliki tentara, tidak memiliki kerajaan, tidak memiliki persenjataan, sedangkan Fir’aun memiliki kekuasaan, memiliki pasukan, memiliki harta, bahkan mengaku sebagai Tuhan.

Secara logika manusia, fir’aun pasti menang tetapi Allah ingin mengajarkan satu pelajaran yang terus hidup hingga hari kiamat. Jika Allah menolongmu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu. Seketika saat itu laut terbelah, jalan terbuka, orang-orang beriman selamat dan fir’aun yang sombong tenggelam. Karena itu Asyura adalah peringatan tahunan bahwa kebenaran mungkin lemah, tetapi tidak akan kalah dan kebatilan mungkin kuat, tetapi tidak akan menang selamanya.

Besarnya pahala puasa Asyura. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bersabda : Aku berharap kepada Allah bahwa puasa hari Asyura dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam sangat mengutamakan Asyura. Aku tidak pernah melihat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, begitu bersungguh-sungguh mencari keutamaan suatu hari untuk berpuasa melebihi hari lainnya selain hari Asyura.

Para Ulama menjelaskan beberapa tingkatan dalam puasa Asyura diantaranya : Yang pertama yaitu yang paling utama pada 9 dan 10 Muharram hal ini berdasarkan Sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam : Jika Aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh Aku akan berpuasa pada tanggal sembilan. (HR. Muslim).

Karena itu mayoritas Ulama menganjurkan puasa 9 Muharram yang disebut Tasu’a dan 10 Muharram yang disebut Asyura. Tujuannya untuk menyelisihi kebiasaan Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10.

Yang kedua, yaitu lebih sempurna pada 9, 10, dan 11 Muharram. Sebagian Ulama, di antaranya disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam Ahmad bin Hanbal, memandang baik berpuasa tiga hari pada 9, 10, dan 11 Muharram. Agar lebih pasti mendapatkan tanggal 10 dan semakin berbeda dari Ahli Kitab.

Yang ketiga, yaitu jika tidak bisa, pada 10, dan 11 Muharram. Maka sebagian Ulama membolehkan pada 10 dan 11 Muharram bagi seseorang yang tidak sempat berpuasa pada tanggal 9 Muharram.

Dan yang keempat, yaitu minimal pada 10 Muharram saja. Kalau hanya mampu satu hari, maka tetap sangat dianjurkan berpuasa pada 10 Muharram (Asyura) karena keutamaan penghapusan dosa setahun yang lalu tetap terkait dengan puasa Asyura itu sendiri.

Akhirul kalam, ada satu hari dalam setahun yang begitu istimewa yaitu hari Asyura, sampai Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, sangat memperhatikannya. Hari yang menjadi saksi kemenangan kebenaran atas kebatilan. Hari yang menyimpan pahala besar bagi mereka yang berpuasa.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: