Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, coba renungkan kenapa satu hari bisa lebih mulia dari hari lain ? Bukan karena angka di kalendernya. Tapi karena peristiwa besar dan anugerah yang Allah hadirkan di dalamnya. Begitulah Asyura menjadi istimewa.
Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki menjelaskan, banyak riwayat menyebut peristiwa besar terjadi di hari ini diantaranya : Nabi Musa diselamatkan dari Fir’aun, bahtera Nabi Nuh berlabuh di bukit Judy, kaum Nabi Yunus diampuni, hingga kisah para nabi lainnya.
Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki mengingatkan dua rambu yaitu jangan menyandarkannya sebagai sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, tanpa sanad yang sahih, jangan sampai bertentangan dengan Al-Qur’an, Hadis, kesucian Allah, dan kemaksuman para Nabi. Karena menjaga kebenaran riwayat adalah bagian dari memuliakan hari ini.
Dari mana asal puasa Asyura ? Saat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, tiba di Madinah, beliau mendapati orang Yahudi berpuasa di hari Asyura sebagai syukur karena Allah menyelamatkan Nabi Musa dan menenggelamkan Fir’aun. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda : Kami lebih berhak atas Musa dari pada kalian. Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya berpuasa. Maka puasa Asyura lahir dari rasa syukur dan kegembiraan atas nikmat Allah.
Lalu, apa keutamaan dari puasa Asyura ini ? Puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang telah berlalu. Menariknya, puasa Arafah menghapus dosa dua tahun yang lalu dan yang akan datang, kenapa beda ? Karena Arafah disandarkan pada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan kesempurnaan agama ini, sementara Asyura disandarkan pada Nabi Musa. Kita imani semua Nabi tanpa membeda-bedakan, namun kedudukan mereka bertingkat dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yang tertinggi.
Kenapa dianjurkan puasa pada tanggal 9 juga ? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, menganjurkan puasa sehari sebelumnya (Tasu’a) atau sesudahnya, agar berbeda dari cara ibadah umat lain. Ini bukan soal kebencian. Islam mengajarkan toleransi dan hidup berdampingan. Tapi toleransi tidak boleh sampai melarutkan identitas dan syariat kita ke dalam ajaran lain. Umat ini punya karakter dan celupannya sendiri.
Pembaca yang dirahmati Allah jadi, jangan sampai kita melewatkan puasa Asyura sebagaimana Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki berpesan : Berpuasalah di hari Asyura, ajak keluarga dan anak-anakmu, dan hadirkan dirimu untuk menangkap hembusan rahmat (nafahat) Allah di hari-hari mulia ini.


