INGIN ANAKMU PUNYA MISI HIDUP MAKA BELAJARLAH DARI KELUARGA MUHAMMAD AL-FATIH

INGIN ANAKMU PUNYA MISI HIDUP MAKA BELAJARLAH DARI KELUARGA MUHAMMAD AL-FATIH

Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, banyak orang tua hari ini sibuk bertanya, sekolah terbaik untuk anakku di mana ?, les apa lagi yang harus diambil ?, bagaimana supaya nilainya bagus ? Padahal sebelum anak membutuhkan prestasi, ia lebih dulu membutuhkan arah hidup.

Sejak kecil, Muhammad Al-Fatih tidak hanya diajarkan membaca al-Qur’an, memanah, berkuda, atau strategi perang. Ia di besarkan dengan sebuah keyakinan besar. Bahwa hidupnya bukan sekadar untuk dirinya sendiri. Melainkan untuk memberi manfaat bagi umat.

Orang tuanya dan para gurunya menanamkan sebuah hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahwa Konstantinopel pasti akan ditaklukan adapun haditsnya sebagai berikut : Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya. (HR. Ahmad no. 18189). Hadis itu bukan sekadar dihafalkan. tetapi ditanamkan menjadi cita-cita hidupnya.

Bayangkan Muhammad Al-Fatih tumbuh dengan satu pertanyaan di dalam hatinya, Mungkinkah akulah orang yang dimaksud Rasulullah ? sebuah pertanyaan itu mengubah cara ia belajar, cara ia berlatih, cara ia memandang setiap hari. Karena orang yang memiliki misi akan belajar dengan semangat yang berbeda.

Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa setiap manusia diciptakan untuk tujuan yang mulia. Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman : Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara sia-sia. (QS. Al-Mu’minun ayat : 115). Anak tidak hanya perlu tahu ingin menjadi apa. tapi ia perlu tahu juga untuk apa ia hidup.

Psikologi modern menyebutnya sebagai purpose atau tujuan hidup. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa remaja yang memiliki tujuan hidup yang jelas cenderung lebih tangguh menghadapi kesulitan, lebih disiplin, lebih sehat secara mental, dan lebih mampu menunda kesenangan demi tujuan jangka panjang. (Damon, Menon, dan Bronk, 2003, Bronk, 2014).

Mungkin warisan terbesar yang bisa kita berikan kepada anak bukan rumah, bukan tabungan, bukan gelar. Tetapi sebuah keyakinan, Allah menciptakanmu untuk membawa kebaikan bagi dunia. Karena anak yang tahu alasan ia hidup akan jauh lebih kuat dari pada anak yang hanya tahu cara meraih nilai tinggi.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: