Oleh: Frystha Ayuning Rahayu (SMAN 1 Singaparna)
Jika memang teknologi hadir untuk menerangi jalan peradaban manusia, lantas mengapa internet hari ini justru menjadi tempat di mana banyak remaja kehilangan arah dan jati diri?
Di balik kemudahan akses informasi, akhlak remaja perlahan terkikis oleh lalu-lalang hoaks, konten yang tidak pantas, dan hilangnya ruang diskusi yang sehat. Kondisi kesesatan digital ini menuntut tindakan cepat penyelamatan, yaitu hijrah digital.
Pertanyaannya, bagaimana menyelaraskan jempol di layar ponsel dengan keluhuran iman di dalam dada? Jawabannya ada pada harmoni tiga pilar adiluhung Jawa Barat: nilai Pancawaluya, jiwa Motekar, dan prinsip Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh.
Pilar Pertama: Pancawaluya sebagai Kompas Moral
Mari kita bedah Pancawaluya. Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer adalah fondasi bagi sebuah generasi agar bisa berdaya saing.
Secara Cageur dan Bageur, remaja harus memiliki mental yang sehat agar terhindar dari penyakit hati semacam hasad (iri dengki) ketika melihat konten flexing di media sosial. Bentuk bageur juga tercermin dari tata bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan sesama pengguna media sosial.
Bener dan Pinter, remaja diharapkan memiliki integritas intelektual. Menjadi remaja yang Bener diwujudkan dengan menerapkan prinsip tabayyun (check dan recheck) sebelum menyebarkan informasi kepada publik agar tidak menjadi pelaku penyebar hoaks. Sementara Pinter berarti cerdas mengatur konsumsi konten agar dipenuhi dengan muatan ilmu dan produktivitas, bukan hanya sekadar hiburan tanpa guna.
Sedangkan, Singer adalah kunci mawas diri (self-regulation). Remaja yang singer adalah remaja yang bisa membatasi dirinya sendiri dari begitu banyak mudarat yang tersebar di media sosial, serta tahu kapan waktu untuk berhenti berselancar di dunia maya.
Pilar Kedua: Menghidupkan Jiwa Motekar
Setelah menanamkan prinsip Pancawaluya sebagai kompas moral individu, pilar yang tidak kalah krusial bagi remaja Jawa Barat adalah menghidupkan kembali jiwa Motekar. Dalam filosofi Sunda, motekar bukan sekadar kreatif, melainkan sebuah manifestasi dari karakter yang ulet, inovatif, pantang menyerah, dan selalu menemukan solusi di tengah keterbatasan. Di era digital, jiwa motekar adalah modal utama untuk mengubah posisi remaja dari sekadar konsumen pasif menjadi produsen solusi yang bernilai guna.
Remaja yang motekar melihat media sosial sebagai jendela peluang. Remaja Jabar yang motekar akan menjadikan media sosial sebagai media up-skilling, mereka belajar coding, sharing ilmu dengan membuat konten edukatif berbasis dakwah, hingga mengembangkan bisnis.
Dalam perspektif Islam, jiwa motekar ini sangat selaras dengan etos kerja keras dan perintah untuk tidak menjadi umat yang lemah. Internet tidak lagi menjadi tempat membuang waktu secara sia-sia, sebagaimana termaktub dalam hadis hasan berikut:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Artinya: “Termasuk tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Pilar Ketiga: Ekosistem Trilogi Silih
Agar bisa berdampak masif, diperlukan ekosistem yang berbasis pada trilogi adiluhung, yaitu silih asah, silih asih, dan silih asuh. Di tengah hiruk-pikuk media sosial yang sering kali terasa kejam akibat infiltrasi budaya Barat yang kurang sesuai dengan syariat Islam, remaja Jawa Barat harus hadir membawa cahaya hidayah untuk saling mengayomi sesama pengguna media sosial.
Silih Asih (Saling Menyayangi). Di dunia maya, prinsip ini diwujudkan dengan menghadirkan empati. Sebelum jempol menari di atas keyboard untuk berkomentar, seorang remaja yang berakhlak akan memastikan bahwa ketikannya mengandung kebaikan dan menyejukkan hati pembacanya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW untuk mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.
Silih Asah (Saling Mencerdaskan). Berarti menjadikan ruang digital sebagai media berbagi ilmu pengetahuan, literasi digital, serta keterampilan produktif dan kolaboratif.
Silih Asuh (Saling Menjaga). Dapat diartikan sebagai komitmen bersama untuk saling memproteksi diri dan orang lain dari paparan hoaks, judi online, pornografi, serta saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan.
Melalui penerapan sikap ini, remaja Jawa Barat diharapkan mampu mengambil peran sebagai trendsetter kebaikan, bukan sekadar pengikut arus (follower).
Ketika Pancawaluya, jiwa Motekar, and trilogi Silih ini menyatu dalam sanubari remaja, visi “Hijrah Menuju Generasi Beriman, Berakhlak, dan Berdaya Saing di Era Digital dalam Bingkai Jabar Istimewa” bukan lagi sekadar slogan di atas kertas. Ini adalah sebuah gerakan nyata. Integrasi ketiga pilar ini melahirkan generasi muda yang tidak hanya fasih menggunakan kecerdasan buatan (AI) atau teknologi terkini, tetapi juga memiliki tingkat kreativitas dan kepekaan sosial yang tinggi.
Menatap masa depan digital bukanlah tentang ketakutan akan dampak negatifnya, melainkan tentang bagaimana kita mengambil kendali penuh atas arah perkembangannya. Remaja Jawa Barat tidak boleh menjadi penonton di tanahnya sendiri yang tergilas oleh arus modernisasi digital yang destruktif.
Melalui akselerasi hijrah digital yang berlandaskan pada keluhuran nilai lokal Pasundan, kita siap membuktikan kepada dunia: kita adalah generasi yang mampu melesat tinggi mengejar kemajuan teknologi di era digital tanpa sedikit pun melepaskan akar keimanan pada dada, keluhuran akhlak pada perilaku, dan identitas budaya suci tanah Jawa Barat yang istimewa. Jadikan jemari di atas layar ponsel kita sebagai saksi perjuangan dakwah modern, tempat di mana setiap ketukan melahirkan kemanfaatan bagi peradaban.

