Oleh: Rio Dwi Saputra (SMAN 1 Megamendung)
Tidak semua yang tampak terang mampu menunjukkan arah. Ada cahaya yang justru membutakan mata, membuat manusia lupa kemana langkah harus bermuara. Begitulah potret zaman hari ini. Dunia berada dalam genggaman. Hanya dengan satu sentuhan, jutaan informasi melintasi ruang dan waktu, menghubungkan manusia tanpa batas. Kecerdasan buatan membantu menyelesaikan pekerjaan dalam hitungan detik, media sosial menghadirkan ruang untuk berkarya, bahkan mimpi-mimpi besar terasa semakin dekat. Namun, di balik kemudahan itu, terselip kegelisahan yang perlahan mengikis nurani. Kebenaran sering kali kalah cepat dibandingkan kebohongan, popularitas lebih dipuja daripada integritas, dan pengakuan manusia lebih dikejar dari pada Ridho Allah Swt.
Fenomena tersebut bukan sekadar perubahan zaman, melainkan ujian besar bagi generasi muda. Penyalahgunaan kecerdasan buatan untuk menciptakan konten palsu (deepfake), maraknya judi daring yang menjerat remaja, perundungan siber yang meninggalkan luka batin, hingga budaya mengejar validasi melalui angka like dan follower menjadi cermin bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan beriringan dengan kemajuan akhlak. Di tengah derasnya arus digital, manusia dapat kehilangan arah bukan karena kurangnya ilmu, melainkan karena pudarnya iman sebagai penuntun kehidupan.
Pada titik inilah hijrah menemukan makna yang sesungguhnya. Hijrah bukan sekadar perubahan penampilan ataupun perpindahan tempat, melainkan perjalanan hati untuk kembali menempatkan Allah sebagai tujuan utama kehidupan. Hijrah adalah keberanian meninggalkan kebiasaan yang melalaikan menuju jalan yang menghadirkan keberkahan. Allah Swt. berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat tersebut mengajarkan bahwa perubahan tidak pernah lahir dari sekadar harapan, tetapi dari kesungguhan memperbaiki diri. Hijrah pada era digital berarti menjadikan teknologi sebagai sarana ibadah, bukan sumber kelalaian namun sebagai jalan menyebarkan manfaat, bukan ruang menebar mudarat. Setiap jejak digital yang ditinggalkan sejatinya adalah cerminan karakter dan akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.
Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sabda ini tidak hanya
berlaku dalam percakapan secara langsung, tetapi juga dalam setiap unggahan, komentar, video, maupun tulisan yang memenuhi ruang digital. Kalimat sederhana itu mengingatkan bahwa jari yang mengetik memiliki tanggung jawab yang sama besarnya dengan lisan yang berbicara.
Hijrah tidak boleh berhenti pada perubahan pribadi. Hijrah harus melahirkan perubahan sosial yang menginspirasi orang lain untuk berjalan menuju kebaikan. Oleh karena itu, generasi muda memerlukan ruang yang mampu menumbuhkan keimanan sekaligus membentuk kepemimpinan. Di sinilah Ikatan Remaja Masjid (IRMA) memegang peranan penting. IRMA bukan sekadar organisasi, melainkan tempat bertumbuhnya pemuda yang meyakini bahwa dakwah tidak hanya dilakukan di atas mimbar, tetapi juga melalui karya, keteladanan, dan inovasi di ruang digital.
Pada era digital, dakwah tidak lagi dibatasi oleh dinding masjid ataupun ruang-ruang kajian. Dakwah dapat hadir melalui video yang menenangkan hati, tulisan yang menggugah kesadaran, infografis yang mencerdaskan, podcast yang menginspirasi, hingga gerakan literasi yang mengajak masyarakat berpikir kritis dan bijak. Di tangan para pemuda yang memiliki iman dan ilmu, media sosial tidak lagi menjadi tempat mencari popularitas, melainkan menjadi ladang amal yang terus mengalir pahalanya. Inilah wajah hijrah yang relevan dengan kebutuhan zaman: memanfaatkan teknologi untuk memperluas manfaat dan menebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Allah Swt. berfirman,
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104).
Ayat tersebut menegaskan bahwa dakwah bukan hanya tugas para ulama, melainkan tanggung jawab setiap muslim sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Bagi generasi muda, kemampuan itu dapat diwujudkan melalui karya digital yang membangun, edukasi yang mencerdaskan, serta keteladanan yang mampu menghidupkan harapan di tengah derasnya arus informasi. Dengan semangat itulah IRMA dapat menjadi agen perubahan, melahirkan generasi yang tidak hanya piawai memanfaatkan teknologi, tetapi juga menjadikan teknologi sebagai sarana menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat.
Generasi berdaya saing tidak hanya diukur dari kemampuannya menguasai kecerdasan buatan, teknologi digital, atau bahasa asing. Lebih dari itu, daya saing sejati lahir ketika kecerdasan intelektual berpadu dengan kematangan spiritual dan keluhuran akhlak. Mesin mampu mengolah data dengan sangat cepat, tetapi tidak mampu menghadirkan kejujuran. Kecerdasan buatan dapat menghasilkan ribuan kalimat, tetapi tidak mampu menggantikan hati yang dipenuhi keikhlasan. Oleh sebab itu, akhlak tetap menjadi kekuatan utama yang akan membedakan manusia dari teknologi secanggih apapun.
Semangat tersebut sejalan dengan cita-cita Jabar Istimewa, yaitu menghadirkan masyarakat yang unggul, religius, inovatif, dan berkarakter. Keistimewaan Jawa Barat tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik ataupun transformasi digital, tetapi juga melalui lahirnya generasi yang menjadikan iman sebagai fondasi setiap langkah. Pemuda Jawa Barat memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor perubahan melalui gerakan literasi, dakwah kreatif, inovasi teknologi, kepedulian sosial, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketika nilai-nilai Islam berpadu dengan semangat berkarya, akan lahir generasi yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga memberi arah bagi perubahan itu sendiri.
Hijrah digital pada akhirnya bukanlah tentang menjauh dari teknologi, melainkan mendekat kepada Allah di tengah kemajuan teknologi. Hijrah adalah keberanian menjaga prinsip ketika dunia menawarkan jalan yang lebih mudah tetapi menjauhkan dari kebenaran. Hijrah adalah memilih menyebarkan ilmu ketika kebencian lebih mudah menarik perhatian, memilih menghadirkan solusi ketika banyak orang sibuk menyalahkan, dan memilih menjadi cahaya ketika kegelapan terasa semakin luas.
Kelak, sejarah tidak akan bertanya seberapa banyak pengikut di media sosial yang dimiliki, seberapa sering nama seseorang menjadi perbincangan, atau seberapa viral sebuah unggahan. Sejarah akan mencatat siapa yang tetap teguh menjaga iman ketika dunia sibuk mengejar pengakuan, siapa yang tetap menjaga akhlak ketika batas antara benar dan salah mulai kabur, serta siapa yang memilih menjadi jalan hadirnya kebaikan bagi sesama.
Maka, hijrah bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal lahirnya generasi baru. Generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, Rasulullah saw. sebagai teladan, ilmu sebagai cahaya, dan teknologi sebagai wasilah untuk menghadirkan kemaslahatan. Dari hati yang berhijrah akan lahir pemuda-pemudi yang mampu menguatkan peradaban. Dari langkah mereka akan tumbuh harapan. Dan dari semangat mereka, Jabar Istimewa tidak hanya dikenal karena kemajuan teknologinya, tetapi juga karena generasi mudanya yang beriman, berakhlak mulia, serta mampu menjadi cahaya yang menerangi bangsa di tengah perubahan zaman.

