Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Jika 14 Mei 1948 adalah hari berdirinya entitas illegal penjajah, maka esok harinya pada tanggal (15 Mei 1948) terjadi bencana bernama Nakbah. Saat ratusan ribu penduduk Baitul Maqdis diusir dari rumahnya. Terusir ke kamp pengungsian, ke negeri orang, ke tanah antah berantah.
Nakbah, itulah nama peristiwa pilu itu. Data angkanya bikin kita mengelus dada sekitar 500 desa dihancurkan, 15 ribu muslimin dan kristiani tewas, 78 % wilayah dikuasai oleh penjajah. Belum lagi jika kita bicara tentang ribuan rumah, kebun zaitun, dan lahan pertanian ditinggalkan atau diambil alih. Apa ini bencana bagi penduduk Baitul Maqdis saja ? Tentu tidak. Ini masalah besar bagi kaum muslimin sedunia.
Saat itu, kaum Muslimin berbeda aksi saat merespon Nakbah. Banyak negeri muslim yang masih berjuang melawan penjajahan. Termasuk Indonesia, yang kala itu baru 3 tahun merdeka dan sedang berjuang lagi menghadapi agresi Belanda. Mereka berhasil mengambil alih daerah-daerah yang produktif secara ekonomi di Jawa dan Sumatera. Meski begitu, sikap ormas Islam tegas menyuarakan Palestina.
Sementara di dunia Islam sekitar Palestina, beberapa negara Arab mengorganisir pasukan untuk menyerang penjajah. Namun Dr Muhsin Muhammad Shalih pakar sejarah Baitul Maqdis menjelaskan bahwa keadaan pasukan Arab saat itu tidak ideal. Dimana jumlah tentara Arab yang terkumpul tidak lebih dari 21 ribu orang sementara jumlah pasukan zionis mencapai 67 ribu orang, tiga kali lipat jumlah tentara Arab.
Tapi ada keadaan yang lebih menyedihkan dari ini. Apa itu ? Saat Nakba terjadi, sebagian besar tentara Arab yang ikut serta masih berada di bawah pengaruh kolonial atau baru saja berdiri dan merdeka. Misalnya, Yordania saat itu masih berada di bawah komando Kepala Staf perwira Inggris John Bagot Glubb. Di jajaran perwira tinggi terdapat sekitar 45 perwira Inggris dari total 50 perwira.
Glubb Pasha mengeluarkan perintah tegas agar tidak melampaui garis pembagian Palestina, yang berarti ia lebih berkepentingan untuk menegakkan keputusan pembagian wilayah, bukan membebaskan Palestina.
Dr. Muhsin Muhammad Shalih menjelaskan, rezim-rezim Arab juga tidak mengerahkan seluruh potensi mereka untuk pertempuran, dan pasukan mereka pergi berperang seolah-olah sedang dalam perjalanan militer yang santai, dengan sangat meremehkan kekuatan pasukan musuh. Alih-alih memobilisasi dan mempersenjatai rakyat Palestina, sebagian tentara justru melucuti senjata orang-orang Palestina.
Tentara-tentara Arab sejatinya merupakan kekuatan besar yang digentari oleh penjajah. Tapi saat itu dunia Islam punya masalah yang sama yaitu mereka diuji dengan banyak pemimpin militer dan politik yang tidak kompeten, atau oleh kondisi keras yang mencegah mereka untuk bertempur secara relative setara, baik dalam hal kemampuan militer maupun peralatan logistik. (Haqaiq wa Auham Haula Nakbah).
Kini sudah 79 tahun sejak Nakba terjadi. Generasi telah berganti, namun belum juga umat ini meraih momentum terbaiknya untuk mengembalikan Baitul Maqdis pada pelukannya. Namun aku yakin, darah syuhada Thufan itu tidak berakhir sia-sia. Kita sedang melanjutkan perjuangan, bersiap hingga hari pertolongan Allah itu tiba. Aku percaya.

