Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, kita sering melangkah di atas dunia dengan langkah yang terasa penuh kepastian, seolah waktu adalah sesuatu yang bisa kita miliki selamanya. Kita terbiasa merasa penting, terbiasa menempatkan diri di pusat segala hal, tanpa sadar bahwa dunia tidak pernah benar-benar berhenti untuk siapa pun.
Padahal, hal-hal yang hari ini kita abaikan, yang kita injak tanpa pikir panjang, yang kita anggap kecil dan tidak berarti, kelak justru menjadi bagian dari tempat kita kembali. Rumput yang dulu kita lewati tanpa perhatian, akan tumbuh di atas liang lahat kita, tempat di mana semua gelar, ambisi, dan kesibukan tidak lagi punya arti apa-apa.
Kesadaran akan keterbatasan ini sebetulnya bukan hadir untuk melemahkan semangat kita, tapi untuk memperjelas arah. Ketika kita tahu bahwa ruang dan waktu kita di dunia ini begitu singkat, setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil sudah sepatutnya lahir dari kesadaran yang penuh, bukan dari ego atau keangkuhan yang fana.
Jika pada akhirnya kita semua akan kembali ke tanah yang sama, bukankah kebaikan-kebaikan yang kita tabur sepanjang jalan yang akan menjadi penolong sejati kita nanti ? Mari kita gunakan kesempatan yang masih Allah titipkan untuk menata kembali langkah dengan lebih bijak. Melangkah dengan penuh nilai kebaikan, penuh arti, penuh kebermanfaatan, menurunkan ego, dan memastikan keberadaan kita membawa kemanfaatan nyata bagi sesama.
