Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, setelah 28 tahun gagal lolos, Norwegia akhirnya melangkah ke babak 16 besar piala dunia. Kejutan itu berlanjut ketika mereka menumbangkan Brazil 2-1, dan untuk pertama kali dalam sejarah lolos ke 8 besar.
Setiap kali menang, para pemain dan puluhan ribu suporternya melakukan Viking Row. Mereka duduk berbaris, menggerakkan tangan seperti sedang mendayung perahu sambil meneriakan, Ro, Ro, Ro yang memiliki arti (Mendayung) ini bukan sekadar selebrasi.
Mengapa mereka melakukan itu ? Karena leluhur Norwegia adalah bangsa Viking. Para pelaut pemberani yang berlayar menembus lautan, menghadapi badai, dan menjelajah dunia lebih dari seribu tahun yang lalu.
Satu perahu Viking hanya bisa melaju jika semua pendayung bergerak dalam irama yang sama. Bukan karena satu orang hebat. Tetapi karena semua bergerak bersama. Itulah filosofi yang mereka hidupkan sampai hari ini, barangkali termasuk dalam spirit permainan mereka di piala dunia tahun ini.
Viking Row bukan sekadar selebrasi. Ia adalah memori. Sebuah pengingat bahwa mereka berasal dari bangsa yang berani menghadapi lautan yang belum diketahui ujungnya. Sejarah mereka masih hidup !!!
Di sinilah kita belajar sesuatu : Itulah mengapa sejarah harus dipelajari. Syekh Ramadhan Al-Buthi menjelaskan : Sejarah bukan sekadar mengetahui masa lalu. Tetapi menumbuhkan spirit kebangsaan dan perjuangan. !!!
Karena itu para ulama dahulu tidak hanya mengajarkan Sirah Nabi sebagai informasi. Mereka menghidupkannya. Agar seorang pemuda merasa : ikut berjalan bersama Rasulullah, ikut merasakan perjuangan para sahabat di sekeliling beliau dan menjadikan mereka teladan hidup.
Dari penghayatan sejarah itulah lahir pribadi yang : tetap teguh saat fakir dan sulit, sabar menghadapi ujian, ringan berkorban, berani berjuang, dan bahkan merindukan syahid di medan perang.
Tidak hanya itu, Ruh perjuangan inilah yang menjadikan pemuda tetap teguh dari berbagai godaan dalam hidup. Mari kita simak apa yang disampaikan Syekh al-Buthi berikut berbagai godaan yang datang dari masyarakat boleh jadi mengguncang dan melelahkan pemuda muslim. Namun, semua itu tidak akan mampu mengalahkannya.
Sebab, dalam setiap pergulatannya melawan godaan, ia justru merasakan kenikmatan dalam menjaga martabat dan harga dirinya. Ia merasa dirinya terlalu mulia untuk tunduk kepada semua godaan itu.
Kemenangan itu semakin menumbuhkan jiwa kepahlawanan dalam dirinya, yaitu jiwa yang selama ini ia saksikan terwujud pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para tokoh yang ditempa oleh pendidikan Islam.
Jika norwegia menghidupkan semangat para Viking. Lalu bagaimana dengan kita ? kita memiliki sejarah yang jauh lebih agung : Sirah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan para sahabatnya. Apakah ia benar-benar hidup dalam jiwa kita ? Ataukah hanya menjadi cerita yang selesai saat pengajian berakhir ?
Sumber : Seputar Pendidikan Islam perspektif Syekh al-Buthi.

