Tiga Derajat Orang yang Berpuasa

Tiga Derajat Orang yang Berpuasa

Oleh: Dzikri Ashiddiq

Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, para ulama, khususnya dalam dunia tasawuf (para ulama tasawuf), membagi tingkatan tingkatan berpuasa sebagaimana penjelasan yang disampaikan oleh  Maulana Al-Ra’id berpuasa mempunyai tingkatan yang pertama, puasanya orang awam dimana puasa level ini hanya dengan cara menjaga dari menahan lapar dahaga dan menahan syahwat

Yang kedua, adalah puasanya orang khusus dari kelompok awam, dimana mereka yang sampai di tingkatan ini berhasil menjaga lapar dahaga serta syahwat dan juga mengendalikan ucapan dan perbuatannya dari hal yang terlarang

Yang ketiga, puasanya orang khusus pada puasa di level ini adalah gabungan dari dua tahapan puasa sebelumnya dengan mendedikasikan waktunya hanya untuk dzikir dan beribadah

Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dalam bukunya yang berjudul Khulashat Ahkam al-Shiyam, (Maulana Muhammad Zakkiy Ibrahim) berupaya memperjelas pendapat para ulama tasawuf di atas menurutnya, agar lebih mudah untuk memahaminya, dalam berpuasa ada tiga derajat

Yang pertama, puasanya orang lalai (shawm al-ghafilin) ini adalah puasa yang hanya mencukupkan diri dengan menahan lapar, dahaga dan syahwat dimana puasa ini bisa disebut pula sebagai puasanya orang kebanyakan (shawm al-aammah) dan puasa mereka terhenti (batal) ketika mereka makan dan minum

Derajat kedua adalah shawm al-salikin (puasanya orang yang menempuh laku di jalan Allah Swt) dalam puasa level ini, orang yang menjalani puasa berhasil mengendalikan lapar, dahaga, dan syahwatnya, serta menjaga diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt dan bagi kelompok ini, puasa mereka terhenti (batal) karena melakukan dosa kecil

Dan puncak tertinggi (derajat ketiga) berpuasa disebut sebagai shawm al-arifin, mereka yang sampai dalam derajat ini ialah gabungan dari tingkatan shawm al-ammah dan shawm al-salikin, juga dengan menjaga hatinya agar tidak dimasuki urusan keduniawian jika demikian, puasa golongan terakhir menjadi berhenti (batal) sebab hati dan jiwanya memikirkan selain Allah Swt

Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, penjelasan tentang derajat berpuasa harus dimaknai sebagai upaya untuk mendorong umat Islam agar dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan memiliki orientasi untuk menggapai keparipurnaan berpuasa terlebih, ibadah puasa ketika dikerjakan dengan maksimal akan mampu mengantarkan umat Islam menuju kesalehan individual dan sosial

Hal ini juga dinyatakan oleh Syeikh Shalih al-Ja’far dalam Asrar al-Shiyam li al-Khawwash wa al-Awwam, menurutnya para ulama fikih menyadari, jika ibadah puasa (dalam derajat tertinggi) mampu mendorong lahirnya perasaan kasih sayang pada kaum fakir miskin dimana kepedulian pada mereka akan memunculkan kesadaran untuk melaksanakan kewajiban agama yang berkaitan dengan keadaan fakir miskin yaitu dengan menunaikan kewajiban membayar zakat

Serta ibadah puasa yang terlaksana dengan istimewa akan mampu meredam nafsu dan syahwat dan menggantinya dengan keinginan mulia untuk saling membantu dan berbuat baik kepada sesama manusia

Seorang ulama asal Syiria bernama Mustafa Husni Al-Siba’i menjelaskan hal yang senada dalam bukunya Ahkam al-Shiyam wa Falsafatuhu fi Dha’w al-Qur’an wa al-Sunnah, puasa adalah sarana pembelajaran mental bagi masyarakat untuk mengendalikan hawa nafsu dan berproses dalam koridor kebaikan demi kebahagiaan masyarakat

Lebih lanjut, menurutnya, orang yang berpuasa adalah pejuang yang berhasil memenangkan pertempurannya dia berhasil menundukkan dua musuhnya sekaligus yaitu kesenangan duniawi yang boleh dan kesenangan duniawi yang haram

   

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: