Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, tahun 2 Hijriah. Bukan tahun biasa dalam satu tahun, umat Islam dipindahkan arah kiblat, dilatih menahan diri dengan puasa, lalu diuji di medan nyata dengan peristiwa perang badr.
Pada bulan Rajab 2 H terjadi perpindahan kiblat padahal Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat sudah nyaman, padahal ini sensitif, padahal ini rawan konflik. dari hal tersebut terdapat sebuah pelajaran walaupun itu pahit dimana umat yang dewasa siap taat meski bingung, siap patuh meski belum paham sepenuhnya. Karena ilmu dimulai dari ketaatan, bukan dari perdebatan. Karena ini merupakan perintah dari Allah.
Pada bulan Sya’ban 2 H terdapat perintah untuk menunaikan puasa dimana puasa Ramadhan diwajibkan, bukan setelah umat kuat, tapi sebelum umat diuji perang. dari perintah tersebut terdapat sebuah pelajaran walaupun itu pahit karena sebuah peradaban tidak dibangun oleh orang cerdas saja, tapi oleh orang yang mampu mengendalikan diri, dan perintah puasa ini tidak sebatas pada aspek ritual saja namun melatih juga kepemimpinan batin kita.
Pada bulan Ramadhan 2 H terjadi perang Badr yang menjadi ujian nyata bagi umat Islam pada saat itu kaum muslimin dalam jumlah pasukkan yang sedikit serta dalam kondisi kurang persiapan dan harus dihadapkan dengan kekuatan besar. walaupun kaum muslimin saat itu belum siap secara logistik tapi mereka sudah siap secara ruhani. dalam situasi dan kondisi umat Islam yang berada dalam keterbatasan terdapat sebuah pelajaran berharga walaupun itu pahit karena sebuah kemenangan tidak lahir dari jumlah dan perlengkapan yang memadai namun ia lahir dari arah yang lurus dan jiwa yang terdidik dengan keimanan yang kuat dan kokoh.
Dari peristiwa-peristiwa tersebut terdapat pola penempaan yang Allah berikan kepada umat Islam dan pola tersebut diantaranya : arah dibenahi (perpindahan arah kiblat), jiwa dikendalikan (dengan puasa), dan ujian diturunkan (dengan terjadi peristiwa perang badr). dari hal tersebut terdapat sebuah pengingat saat kita mengharapkan sebuah hasil yang maksimal dan baik maka kita harus kuat dan sabar dalam menempuh sebuah proses.
Karena perubahan umat tidak dimulai dari teriak kemenangan tetapi dari : taat meski berat, sabar meski lapar, dan berani meski sedikit. beginilah umat dibentuk dulu dan sekarang.

