Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, pada 20 Ramadhan 8 Hijriah adalah pulang kampung terindah dalam sejarah umat Islam. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pulang ke Mekkah, setelah 8 tahun lamanya berjuang menghadapi kaumnya sendiri.
Tidak hanya pulang, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kembali ke kampung halamannya untuk membebaskannya. Banyangkan saudaraku Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam memulainya di Makkah. Kota penuh kenangan itu yang setiap sudutnya penuh dengan memori yang penuh dengan kenangan indah dan istimewa.
Tentang kasih sayang Aminah, wibawa Abdul Muthalib, perlindungan Abu Thalib, dan cinta Khadijah. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kembali ke kota penuh kenangan itu sebagai pemenang. Setelah sekian lama perjuangan tumpah demi risalah Islam. Di kota itupun, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, shalat berkiblat menghadap Masjid Al-Aqsha, dihadang Abu Lahab dan istrinya.
Bersama Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali menghadapi Abu Jahal dengan segala kejahatannya dan pada hamparannya pula Bilal bertahan dalam menjaga imannya, sudut kotanya mengenang kesabaran keluarga Ammar.
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berhijrah pada 1 Hijriah, menang tahun depannya di Badar menghadapi orang-orang musyrikin Makkah, Bertahan di Uhud pada 3 Hijriah, Teguh di Khandaq saat mereka menyerang lagi pada 5 Hijriah dan pada 6 Hijriah terjadi perjanjian Hudaibiyah, lalu pada7 Hijriah menangkan Khaibar dan perluas dakwah.
Lalu datanglah 20 Ramadhan 8 Hijriah, saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membuka Kota Makkah dengan 10 ribu tentara yang shalih dan gagah dan peristiwa ini dikenal dengan Fathu Makkah (pembebasan Makkah). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memulainya dengan keteguhan, Waraqah saat itu bilang bahwa kaummu akan mengusirmu.
Makin lama, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, difitnah gila, disebut sebagai penyihir, dan beliau berkata, penduduk kota ini tidak mau lagi mendengarku dan hadirlah hari pembebasan itu, saat penduduk Makkah berkata, kaulah putraku dan putra saudaraku.
Sebagaimana teladan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, membebaskan Makkah hari itu. Begitulah Umar bin Khattab membebaskan Baitul Maqdis, begitulah Thariq bin Ziyad membuka gerbang Andalusia, begitulah Muhammad Al-Fatih menata kembali Konstantinopel, dan begitu juga kita akan membebaskan Al-Aqsha kembali.


