Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, di momen hari Asyura kita sering diingatkan dengan kisah selamatnya Nabi Musa As. dari kejaran Fir’aun. Tapi tahukah kamu ? Dalam literatur tafsir, Asyura juga menjadi saksi bisu dari peristiwa epic lainnya, salah satunya selamatnya kaum Nainawa dari azab.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman : Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus ? Ketika mereka beriman Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan. (QS. Yunus ayat : 98). Jika kita lihat pola sejarah dalam Al-Qur’an, saat para Nabi sudah pergi dan tanda-tanda azab sudah tiba, maka kaum itu pasti binasa. Tapi, kenapa kaum Nainawa adalah pengecualian ?
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengisahkan momen dramatis ini. Saat Nabi Yunus As. pergi dan tanda kehancuran sudah di depan mata, kaum Nainawa tidak diam pasrah. Mereka keluar menuju padang pasir, membawa para ibu, bayi dan anak-anak, hingga hewan ternak. Mereka mengenakan al-musuh (pakaian dari bulu kasar), lalu memisahkan para balita dari ibunya, bahkan anak hewan dari induknya. Di tengah padang pasir itu, mereka menangis, memohon ampun, dan bertaubat selama 40 hari.
Namun, tangisan saja tidak akan mampu membatalkan azab. Dalam riwayat, Ibnu Mas’ud Ra, mengungkap fakta yang jauh lebih dalam : Kesungguhan taubat mereka mencapai titik di mana mereka saling mengembalikan hak-hak yang dirampas di antara mereka. Bahkan, jika ada sebongkah batu milik orang lain di fondasi rumahnya, ia bongkar rumahnya demi mengembalikan batu itu kepada pemilik aslinya.
Para ulama menjelaskan bahwa pakaian kasar adalah simbol runtuhnya ego dan kesombongan. Dan jerit tangis bayi dan hewan yang memekakan seantero negeri menunjukkan titik terendah dan terlemah mereka. Dan yang paling penting, mereka tidak diam dan pasrah menunggu kembalinya Nabi. Namun, seluruh elemen masyarakat bergerak serentak melakukan pertaubatan dan perombakan sistemik, serta merestorasi keadilan.
Dari kaum Nainawa kita belajar bahwa jika azab Tuhan saja bisa dicegah dengan kesadaran kolektif, apalagi sekadar permasalahan sosial, kezaliman sistemik, kerusakan lingkungan, krisis iklim, dan berbagai tantangan yang terjadi hari ini tentu bisa kita ubah.
Kita tidak perlu lari ke padang pasir dan memisahkan balita dari ibunya hanya untuk berubah. Kita hanya perlu menanggalkan arogansi dan ego kita, dan berani menghadapi kezaliman, serta mengembalikan hak-hak mereka yang dizalimi.
Berbagai peristiwa besar yang terjadi di hari Asyura mewariskan satu pelajaran penting bagi kita hari ini : Bahwa keselamatan tidak didapatkan secara cuma-cuma. Ia diraih dengan sabar di tengah krisis, berani berjuang mengambil peran, dan berhijrah menuju aksi perbaikan nyata. Inilah esensi bangkit berhijrah yang sesungguhnya.
Sumber : Tafsir Al-Misbah, Tafsir Ibn Katsir, Al-Jami li Ahkam al-Qur’an, Mafatih al-Ghayb.
