Manusia Paripurna

Manusia Paripurna

Oleh: Muhamad Amjad Syukur, S.Ag., M.Pd. (Guru PAI SMK PGRI Cikoneng)

Manusia paripurna adalah keinginan kita Sebagai makhluk yang diberi akal dan nurani, serta diwajibkan oleh Allah Swt untuk beribadah dan menyembah hanya kepada Allah Swt, dengan landasan QS. Al-Dzāriyat ayat 56, di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Dia telah menciptakan makhluk dari golongan jin dan manusia dengan tugas dan kewajiban menjadi hamba-Nya. Jadi ketika kita ingin menjadi manusia yang paripurna seperti pada judul tersebut, maka apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus terus menerus ibadah, ataukah kita hanya perlu melaksanakan yang wajib saja?

Manusia ini diperintahkan oleh Allah untuk ibadah, dalam QS. Luqman ayat 13-14, dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa dalam ayat 13 dijelaskan mengenai perintah untuk mengesakan Dia dalam keadaan dan situasi apapun, digambarkan dalam ayat tersebut kisah Luqman yang mengajarkan kepada anaknya untuk senantiasa bertobat kepada Allah dan selalu beribadah hanya dengan niat karena mencari ridha Allah Swt.

Dalam lanjutan ayatnya adalah pada ayat 14 dijelaskan bahwa kita juga diperintahkan untuk menghormati kedua orang tua, dimana orang tua itu menjadi role model dalam ibadah kita kepada Allah dengan media atau beinteraksi dengan makkhluk ciptaan-Nya, seperti manusia, hewan, tumbuhan dan alam tempat kita tinggal. Dalam praktiknya terdapat beberapa orang yang menganggap remeh dari ibadah ini, mungkin menjadi menjadi pembelajaran bagi kita agar tidak meremehkan hal-hal yang kecil.

Kita mengetahui bahwa ibadah itu terdiri dari dua macam, yaitu ibadah mahdlah (vertikal) dan ghairu mahdlah (horizontal), kedua ibadah tersebut merupakan jalan kita menjadi “Manusia Paripurna”. Seseorang manusia diberikan akal untuk digunakan, tapi akal itu dibatasi oleh aturan syara’. Akal ini merupakan pemberian yang sangat luar biasa, dikarenakan akal menjadi salah satu penopang hidup manusia dalam menjalankan kesehariannya, akal ini membuat manusia dapat membedakan hal-hal yang dilihat, dirasakan dan didengarkan. Manusia tanpa akal itu diibaratkan seperti Zebra tanpa belang apabila coraknya, jika Zebra tanpa belang maka apa bedanya dengan kuda atau keledai. Seperti itulah manusia yang dianugerahi akal niscaya menjadi sebuah bekal hidup diberikan oleh Allah untuk semua manusia.

Selain akal, manusia juga dibekali hati, dimana hati ini terdapat di bagian dalam tubuh setiap manusia. dikarenakan di dalam tubuh seringkali kita melupakan dan mengabaikan keberadaanya, hati itu letaknya diantara jantun dan paru-paru, dan ditutup oleh kerangka tulang rusuk yang terjaga sedemikian rupa, semua itu kuasa dari Allah Swt. Allah pasti menciptakan segala sesuatu ada hikmahnya, muncul pertanyaan kenapa Allah menempatkan hati di dalam, karena hati ini memiliki tingkat sensitivitas yang paling tinggi dibandingkan anggota tubuh lainnya. sakit diakibatkan oleh luka luar lebih mudah menyembuhkannya, beda halnya dengan sakit pada hati yang notabenenya sangat sulit untuk disembuhkan. Maka dari itu kita semua diperintahkan oleh Allah untuk menjaga hati kita agar senantiasa bersikap tawadhu (rendah hati), kita ini semua diajarkan oleh Allah dalam QS. Al-Furqan ayat 63, mengutip tafsir al-kasyā karya dari Zamakhsyari, beliau berpendapat bahwa kata ‘ibād al-rahmān memiliki definisi orang yang beriman dan memiliki hati yang sangat lembut kepada sesama manusia. bahwa orang yang beriman itu adalah mereka dalam berperilaku dengan penuh kerendah hatian, baik dalam bekerja, ibadah, sosialisasi, ataupun hal lainnya yang berkaitan dengan makhluk hidup. Maka dari itu sebagai salah satu syaratnya menjadi orang yang tawadhu atau rendah hati, kita dilarang oleh Allah Swt untuk merasa lebih dari makhluk lainnya, karena kita semua diciptakan oleh Allah beragam. Allah itu Maha Adil, Dia itu menciptakan semua manusia ketika lahir itu suci dan bersih dari dosa.

Menurut pernyataan tersebut, bahwa di masa sekarang ini realitanya masih banyak yang beranggapan bahwa apabila kita memiliki jabatan atau kekayaan, harus menjadi superior dibandingkan dengan orang lain, sikap seperti ini yang harus kita jauhi. Seperti kisah pada zaman dulu yaitu Fir’aun  yang diberikan oleh Allah kelebihan berbeda dengan orang lain pada masanya. Dia diberikan oleh Allah suatu peradaban yang sangat maju dengan SDM yang sangat baik pula mengantarkan dia menjadi superior pada masanya. Namun dibalik semuanya itu, tanpa dibarengi keimanan dan ibadah kepada Yang Maha Esa, maka semuanya akan sia-sia, seperti halnya yang terjadi pada dia, dia telah menganggap bahwa dirinyalah yang berkuasa memerintah dan memberikan hukuman kepada semua orang yang ada khususnya di wilayah kekuasaannya. Dia beranggapan tidak ada kekuatan lain yang dapat menandinginya, bahkan saking tidak adanya keimanan dan tidak adanya sinkronasi antara akal dan hati, dia menyatakan sebuah statement dengan menyatakan dirinya sebagai Tuhan. Dalam kasus tersebut Allah memberikan pembelajaran bagi kita, ketika diberi kekuasaan kepadanya, semua itu hanya untuk menguji apakah orang tersebut akan senantiasa bersikap rendah hati ataukah malah menjadi tinggi hati dan congkak melihat semua orang yang memiliki kedudukan di bawahnya.

Kesimpulan, apabila kita ingin menjadi manusia paripurna minimal harus memiliki keimanan yang kuat, dengan mengimplementasikannya pada aktivitas sehari-hari seperti ibadah mahdlah maupun ghair mahdlah, lalu menjadi pribadi yang selalu rendah hati, menggunakan akal dengan batasan syariat dan hati.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: