Oleh : Dzikri. Ashiddiq. Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala, Allah tidak mengungkapkan bahwa bumi diwariskan bagi mereka yang memiliki kedudukan kekuasaan, ataupun kekayaan, tapi untuk hamba-hamba yang shalih. Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman : Sungguh, Kami telah menuliskan di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam az-Zikr (Lauh Mahfuz) bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih. (QS. Al-Anbiya ayat : 105).
Dan shalih, dalam pandangan Allah, tidak sesempit apa yang sering kita banyangkan. Ini bukan hanya tentang ibadah yang wajib maupun yang sunah, bukan hanya tentang lisan yang fasih menyebut nama-Nya, tetapi juga tentang cara hati dan tangan memperlakukan apa yang sudah dititipkan Allah kepada kita.
Sebab bumi ini bukan milik kita. Bumi adalah amanah yang Allah titipkan kepada kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Amanah atas tanah yang kita tempati, udara yang kita hirup, air yang kita pakai, dan sumber daya yang sering kita nikmati tanpa pernah benar-benar kita jaga.
Dalam ayat di atas pada surat Al-Anbiya ayat : 105 ayat ini mengingatkan bahwa mewarisi bumi bukan soal menguasai, melainkan tentang menjaga dan merawat, bukan tentang seberapa banyak yang bisa diambil, tetapi seberapa jauh kita berusaha agar kerusakan tidak lahir dari tangan kita sendiri.
Bumi tidak rusak karena kebencian, bumi lebih sering rusak bahkan hancur oleh manusia yang serakah dan terlalu mencintai dunia. Mencintainya tanpa rasa cukup, tanpa rasa takut, tanpa sadar bahwa setiap jengkal kerusakan yang terjadi di bumi ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

