Oleh: Dzikri Ashiddiq
Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, perayaan Maulid Nabi pertama kali diadakan pada abad ke-7 Hijriyah, tepatnya di Irbil, Irak, oleh raja bernama Sultan Muzhaffaruddin Al-Kaukabri. Dia ingin merayakan kelahiran Nabi Muhammad Saw sebagai wujud cinta dan semangat persatuan untuk umat Islam
Ada pendapat yang lain mengatakan bahwa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi adalah orang pertama yang mengadakan peringatan Maulid Nabi. Pada masa Perang Salib, tujuannya jelas untuk membangkitkan semangat umat Islam untuk kembali berjihad membela agama
Pada musim haji tahun 579 Hijriah, Sultan Salahuddin memberi intruksi kepada para jemaah haji untuk menyebarkan berita bahwa mulai tahun 580 Hijriah/12 Rabiul Awwal ditetapkan sebagai Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan untuk membangkitkan semangat umat
Dulu, Maulid Nabi dimanfaatkan untuk menyemangati umat Islam dalam menghadapi tantangan besar, seperti dalam masa perjuangan Islam bahkan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi menggunakan Maulid Nabi untuk membangkitkan semangat umat Islam agar tetap teguh dan berani
Dan pada masa kini, di tengah laju perkembangan zaman dan di tengah hiruk pikuk kesibukan dunia maka Maulid Nabi bisa menjadi pengingat bagi kita. Bahwa kita juga bisa mengambil hikmah dari perjuangan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, dalam menginspirasi kita untuk tetap teguh dalam menghadapi tangtangan hidup dengan semangat dan keteguhan iman yang kokoh dalam jiwa setiap kaum muslimin, sebagaimana yang Nabi contohkan dan ajarkan kepada umatnya
Mari kita jadikan moment Maulid Nabi sebagai sarana untuk meneladani kemuliaan akhlak Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam serta mengambil hikmah dalam perjuangan dakwah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam sehingga kita senantiasa termotivasi untuk saling berpesan dalam kebaikan, saling mengingatkan dalam kebaikan, saling mengajak dalam kebaikan, saling berlomba-lomba dalam kebaikan serta menebarkan kebaikan dalam kehidupan
