Oleh: Intan Safitri – SMK Negeri 5 Kota Bekasi
Aku yang didefinisikan manusia yang terlihat baik-baik saja.
Sore di Jakarta.
“Kamu selalu menjadi pendengar yang baik, apakah hidupmu baik-baik saja?”
“Hidupku baik-baik saja, jikalau Allah masih terus bersamaku.”
“Aku tidak percaya.”
“Kamu pasti berpikir itu hanya kalimat penenang, ya? Kalau ditanya hidupku baik-baik saja atau tidak, jawabannya tidak. Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan kebahagiaan sesungguhnya. Tetapi aku selalu yakin, ada hikmah dibalik ini semua.”
Aku hidup sendirian. Melalui proses pendewasaan tanpa ditemani.
Rasanya berat, tetapi aku yakin takdirku akan jauh lebih baik.
Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran. (HR. Bukhari No. 1469)
Hadist yang selalu aku ingat menjadi tekad hidupku. Setelah bulan sabit, pasti akan ada bulan purnama. Semua akan ada prosesnya sendiri, dan ada waktunya sendiri. Sabar yang aku tanam di kebunku, pasti akan panen dan aku petik keajaiban-Nya.
“Lantas mengapa kamu mau menjadi pendengar yang baik?”
“Selagi aku mampu, mengapa tidak?”
Aku tersenyum ke arah Gilang, teman satu jurusan.
“Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu. Kalau hidupmu tidak seindah pelangi setelah hujan, setidaknya indahlah seperti senja. Aku kagum padamu. Teruslah menjalani hari-harimu dengan melibatkan Allah. Suatu saat, kamu akan menjadi orang yang hebat.”
Air mataku berlinang begitu saja. Di halaman masjid yang menjadi tempat istirahatku sejenak menjadi saksi di mana aku kembali menangis. Tidak apa-apa, ini sangat mengharukan bagiku.
“Semoga apa yang kamu katakan, menjadi doa terbaik juga untukmu, ya!”
“Aamiin. Kuat terus teman hebat.”
***
Gundukan tanah merah yang aku pandang saat ini adalah seseorang yang aku rindukan.
“Hallo, nenek! Maaf, ya, aku baru bisa jenguk lagi.”
Aku bersandar di nisan nenek sembari mengusap tanah merah yang di bawahnya ada nenek.
“Nek … mama, papa, ninggalin aku sendirian. Setelah nenek pergi, aku menjalani hari-hariku sendiri. Oh, iya, nek, sekarang aku sudah pakai kerudung, sudah salat lima waktu tanpa bolong-bolong, ngajiku juga sudah lancar. Ini semua berkat nenek.”
“Kata nenek, perempuan itu wajib menutup auratnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, jadi lemariku isinya semua baju-baju panjang dan kerudung, hampir semuanya gamis.”
“Kata nenek, jangan meninggalkan salat, katanya salat adalah tiang agama. Kalau tiangnya tidak berdiri kokoh maka akan roboh, jadinya sekarang aku tidak pernah lupa salat.”
“Kata nenek, mengaji itu penting, jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, akhirnya sekarang aku jadi bisa mengaji dengan bantuan guru ngajiku di rumah. Sekarang hidupku jadi lebih berarti setelah menjalankan apa yang nenek ajarkan, walaupun hampir menyerah.”
“Nenek kenapa pergi di saat aku bisa semuanya? Nenek tidak mau melihatku? Aku sekarang jadi gadis yang mandiri, bukan gadis kecil lagi,” guyonku dengan air mata yang berlinang.
Aku mencabut rumput liar di atas makam nenek. Tidak akan kubiarkan rumput liar itu menghalangi keindahan makam nenek, salah satu pahlawan hidupku.
Setelah bersih, aku menyiramkan air mawar, dan bunga mawar. Makam nenek sudah wangi lagi.
“Nenek … aku rapuh. Aku selalu nangis bukan tentang es krim lagi, tapi tentang rindu yang tidak bisa aku jelaskan.”
“Nenek … aku sedih. Aku sedih bukan tentang ditinggal nenek ke pasar lagi, tapi tentang rindu dipeluk.”
“Nenek … sekarang aku jadi lebih paham tentang agama. Terkadang juga aku mengajak teman-teman untuk berubah. Meskipun tidak selalu berhasil, tapi aku selalu ingat kata-kata nenek jangan pernah lelah untuk mendaki.”
Tidak ada hentinya aku bercerita. Meskipun tidak ada yang mendengar, tapi aku percaya nenek mendengarnya.
“Aku juga sekarang selalu baca tentang hadist kehidupan. Ada beberapa hadist yang sudah aku jalankan. Ini semua berkat nenek yang memberikan aku wejangan tentang keagamaan. Nenek hebat.”
Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu. (HR. Muslim).
“Aku jadi lebih ikhlas untuk setiap yang terjadi, nek. Walaupun sulit tetap aku jalani. Menjadi sosok kuat di hadapan semua orang, terutama adikku. Nenek jangan bosan mendengar semua cerita tentangku, ya!”
Aku masih mencoba tenang untuk bercerita, meskipun rasanya ingin berteriak.
Aku terus saja memegang tasbih yang selalu tergenggam di tanganku, melafalkan zikir untuk membuatku tenang.
“Aku pamit, ya, nek. Sudah sore. Nenek baik-baik di sini. Lain kali datang ke mimpiku.”
Kakiku melangkah ke arah barat, mengikuti arah senja, meninggalkan nenek sendiri.
Lega rasanya jika sudah meluapkan isi hati. Tidak sembuh, setidaknya berkurang sedikit.
Obat tidak harus berbentuk kapsul, dan rumah tidak harus berbentuk bangunan. Itu semua ada di nenek.
Entah besok apa yang terjadi. Aku harus lebih sabar, lebih kuat, dan lebih ikhlas. Menjalani hari-hari berikutnya dengan senyum yang terus terukir. Aku harus bisa menjadi seseorang yang hebat, melawan kegagalan, dan meraih kesuksesan.
Motivasi terbaik, jatuh, gagal, itu semua adalah proses pendewasaan untuk meraih kesuksesan. Hargai perjalanan, nikmati, dan berusaha. Takdir tidak akan salah tempat.
-SELESAI-


