Katakan Walau Itu Pahit

Katakan Walau Itu Pahit

Oleh: Sania Agustiani (SMAN 1 Mangunjaya)

Tsabila merupakan salah satu anggota kelompok memasak. Sekolahnya mengadakan acara lomba memasak antarkelas dan setiap kelas hanya mengirimkan 5 orang sebagai perwakilan. Gadis bernama Tsabila bertugas untuk membeli bahan-bahan masak.

“Ini udah kebeli semua, Bil?” tanya salah satu rekannya yang menerima keranjang belanja.

“Udah” jawab Tsabila sambil mengangguk. “Kurang gak uangnya?” tanya Kiran.

Tsabila terdiam sebentar, tapi kemudian menjawab “Emm.. enggak, kok.”

Tsabila menghembuskan nafasnya lelah. Dalam hatinya Ia menggerutu, lagi dan terjadi lagi kebiasaan buruk Tsabila, Ia berbohong karena terdorong oleh perasaannya sendiri yang merasa tidak enak hati. Sebenarnya uang belanja kurang, sisa bayaran dibayar oleh uang Tsabila sendiri, padahal uang itu akan digunakan untuk membeli buku, tapi, ya, sudahlah.

Waktu memasak telah dimulai, semua peserta sibuk terhadap tugasnya masing-masing.

Dalam waktu satu jam masakan harus sudah terhidangkan dan diserahkan kepada juri.

Teman-teman kelasnya yang begitu semangat dan kompak mengakibatkan mereka selesai dengan cepat.

“Tsabila! Sini, Bil!” seru seorang gadis bernama Fika.

Tsabila gesit menghampiri seraya bertanya “Kenapa, Fik? Bahannya kurang?”

“Bukan. Ini kamu cicip deh masakan kita.” Fika menyuapi Tsabila satu sendok masakan.

Lidah Tsabila mulai mengecap, mencoba mendeskripsikan rasanya. Hati Tsabila berkata masakannya terlalu asin dan sedikit kurang matang, namun lisannya berkata “Enak”

“Bener?” tanya Fika dan teman-teman lainnya yang menunggu jawaban pasti dari Tsabila. “Iya, udah pas semuanya” Tsabila tidak tega jika harus mengatakan yang sebenarnya

teman-temannya pasti akan memasak ulang. Tsabila merasa kasihan mereka harus kecapekan.

Masakan pun segera dihidangkan dengan tampilan seindah mungkin. Di hadapan juri telah terjajar makanan daerah dengan piring-piring cantik. Para penonton selalu memperhatikan ekspresi sang juri saat mencicip masakan membuat mereka menebak-nebak siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah.

Sesi pengumuman kejuaraan pun tiba. “PEMENANGNYA ADALAH.. ” dengan sengaja panitia menggantungkan kalimatnya, memberi kesempatan kepada penonton untuk

menerka-nerka siapa pemenangnya?, sebelum akhirnya ekspetasi mereka pupus.

“Aku yakin kita pasti menang!.” seru Fika kepada teman kelompoknya.

Tsabila sendiri tidak yakin, karena rasa masakannya yang kurang memenuhi kriteria sebagai pemenang.

“KELOMPOK 1!” seru sang panitia dengan semangat. Kelompok yang disebut langsung bersorak heboh begitu pun dengan para pendukungnya. Sementara kelompok lain terlihat kecewa.

“Masa sih, kita gak menang?!” Apa yang kurang coba dari masakan kita?.” Fika langsung teringat kepada Tsabila, Ia menatap serius Tsabila “Kata kamu enak, gimana sih?

Jangan-jangan kamu bohong bilang masakan kita enak padahal gak enak supaya kelompok kita gak menang, iya, kan?.”

“Eng- enggak, kok. G- gak b-bohong” ucap Tsabila tergugu.

“Padahal kalau bilang gak enak seenggaknya kita bisa benerin rasanya” ucap temannya yang lain, mewakili kekecewaan teman-teman kelasnya.

Tsabila menangis. Ia sangat sangat merasa bersalah atas kekalahan timnya. Tsabila kira dengan melindungi perasaan orang lain dengan berkata masakannya enak bisa membuat orang lain senang ternyata akhirnya lebih mengecewakan. Padahal bukan itu niat Tsabila dan kenapa hanya untuk mengatakan yang sebenarnya itu sulit sekali bagi Tsabila?

“Bil” ucap seseorang di belakang Tsabila. Kiran menghampiri Tsabila disaat semua teman-temannya meninggalkan gadis itu karena kecewa.

Tsabila menoleh lalu segera mengusap air matanya. “Iya, Kiran?”

Kiran tersenyum melihat sisa air mata Tsabila, lantas tangannya terulur mengusap bahu Tsabila. “Gak apa-apa, Bil. Bukan sepenuhnya salah kamu” kata Kiran menenangkan.

“Memang bukan sepenuhnya, tapi hampir sepenuhnya.” Tsabila menunduk. “Maaf..” suaranya terdengar serak. Dihatinya Tsabila tak henti-hentinya merutuki diri sendiri.

“Salah kamu itu gak jujur dan kamu gak perlu menyesali yang udah terjadi.” Kiran menatap fokus Tsabila dan meminta Tsabila agar tidak menunduk “Dengerin aku, Bil. Semakin lama kamu nyembunyiin sesuatu, semakin besar kerugian yang akan kamu tanggung bahkan orang yang terlibat pun ikut menanggung ruginya.” tutur Kiran menasehati.

“Iya, Ran. Aku paham soal itu, masalahnya aku ini orangnya gak enakan” Tsabila seorang people pleaser yaitu orang yang mudah merasa tidak enak hati terhadap perasaan orang lain.

Tsabila takut membuat orang lain tidak nyaman, melukai perasaan mereka, atau beresiko membuat mereka marah. Maka dari itu, Tsabila selalu mempertimbangkan suatu tindakan yang akan dilakukannya. Padahal, ketika kita tidak mengatakan yang sebenarnya kepada orang lain dan orang lain pun tidak mengatakan yang sebenarnya kepada kita, kita tidak bisa menangani masalah berlandaskan kenyataan.

“Mau kamu people pleaser, introvert, extrovert, ambivert, gak ada penolakan buat bersikap jujur. Just done! Ketika kamu jujur ya udah selesai aja. Hati lega rasanya, karena gak menyimpan beban,” Kiran menghela napas sebentar kemudian melanjutkan kalimatnya.

“Tapi kalau kita gak jujur, kita akan terus dihantui oleh kenyataan yang gak kita bicarakan dan kapan kenyataan itu akan kita bicarakan?, Menunggu saat yang tepat? Ketika kita nanya sama diri sendiri kapan waktu yang tepat, justru saat itu saat yang tepat.”

Tsabila yang sedari tadi mendengarkan Kiran dengan seksama pun tersenyum. Bangga memiliki sahabat yang selalu memperhatikannya. “Kamu belajar dari mana, Ran? Aku termotivasi banget, makasih banyak, Kiran.”

“Dari nabi kita, Bil, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Sama-sama. Ingat ya, mulai sekarang katakan walau itu pahit.”

Tsabila mengangguk dan berakhir memeluk Kiran erat.

Seringkali kita berkata “YA” kepada orang lain, tapi “TIDAK” kepada diri sendiri hanya karena kita menganggap perasaan mereka lebih penting. Padahal, keadaan diri sendirilah yang semestinya kita prioritaskan sebelum orang lain. Jujur akan membawa kepada kedamaian dan ketentraman. Jujurlah dalam berucap, bertindak maupun berniat.

“Aku juga tau, kamu tadi bohong soal uang belanja. Sebenernya kurang, ya?” tanya Kiran ketika melepaskan dekapannya.

“Soal yang itu, aku udah ikhlas, kok” ucap Tsabila seraya tersenyum tulus. “Kurang berapa? Kita ganti aja, ya?.”

Tsabila menggeleng pelan “Enggak usah.”

Kiran menatap Tsabila malas, lalu membeo lagi “Bener? Ini nolak bukan karena gak enak?

Atau ngerasa bersalah, kan?. Bil, soal kalah-menang kita gak─”

“Kiran.. andai aku bisa gambarin ikhlas itu gimana, pasti aku tunjukin biar kamu percaya.”

Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Baca Juga: